HarianBernas.com – Belajar merupakan proses perubahan dalam pikiran dan karakter intelektual anak didik, sedangkan pembelajaran adalah proses memfasilitasi agar siswa belajar. Antara belajar dan pembelajaran merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Belajar merupakan peristiwa yang sangat kompleks dan penuh tantangan, sedangkan pembelajaran membutuhkan seni mengajar. Belajar melibatkan fisik, pikiran, dan perasaan.
Belajar dimaksudkan agar terjadinya perubahan dalam pikiran dan karakter diri siswa. Tantangan guru tidak hanya membekali keterampilan siswa saat ini, tetapi memastikan bahwa anak didiknya sukses kelak di masa depan. Sukses artinya anak didik setelah belajar di sekolah dapat terjun hidup di masyarakat. Untuk itu, guru harus membekali keterampilan kepada anak didiknya sesuai dengan kebutuhan yang dapat mereka manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru harus memiliki komintem terhadap tugasnya. Tugas utama guru adalah membantu anak didik belajar. Oleh karena itu, mengajar adalah ilmu sekaligus seni. Mengajar sebagai ilmu artinya guru memiliki berbagai kemampuan penguasaan konsep-konsep materi yang akan diajarkan kepada siswa.
Mengajar sebagai seni artinya guru memiliki cara tertentu dalam mengajarnya sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Setiap guru memiliki seni mengajar tersendiri yang dimaksudkan untuk memudahkan peserta didiknya mempelajari sesuatu yang dipelajari.
Dibutuhkan kreativitas yang tinggi bagi seorang guru untuk mengelola kelas dengan menyenangkan. Dengan demikian pembelajaran menjadi efektif. Pembelajaran efektif apabila tujuan pembelajara dapat tercapai.
Pembelajaran di abad 21 ini memiliki perbedaan dengan pembelajaran di masa yang lalu. Dahulu, pembelajaran dilakukan tanpa memperhatikan standar, sedangkan kini memerlukan standar sebagai acuan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Melalui standar yang telah ditetapkan, guru mempunyai pedoman yang pasti tentang apa yang diajarkan dan yang hendak dicapai. Beberapa konsep pendidikan di abad 21 ini, yaitu: (1) pendidikan berbasis standar dan akuntabilitas, (2) berbeda dan beragam, dan (3) pembelajaran yang merata (Arends & Kilcher, 2010).
Pendidikan berbasis standar dan akuntabilitas mewarnai pendidikan di abad modern ini. Disebut pendidikan yang berstandar jika sistem bertumpu pada: (1) seperangkat standar yang dirancang dan disepakati sebagai pedoman pengajaran dan pembelajaran; (2) setiap anak harus mencapai standar yang telah di tetapkan; (3) guru dapat dikatakan memenuhi standar jika dapat memberikan bukti konkrit keberhasilan yang telah di capai dalam proses pembelajaran; dan (4) pendidikan harus mengadakan pembelajaran yang dapat dipertanggungjawabkan dengan prestasi akademik anak didik yang diukur dengan standar tes (Arends & Kilcher, 2010).
Penyelenggaraan yang akuntabilitas adalah penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat terlibat langsung dalam mengawasi pendidikan yang berlaku di sekolah.
Sesungguhnya standar tidak selalu baik, tetapi harus tetap ada. Dikatakan tidak selalu baik karena pada kenyataannya antara sekolah yang satu berbeda konsdisinya dengan sekolah yang lain. Hal ini menuntut tuntutan yang berbeda. Adanya standar membuat suatu pendidikan menjadi lebih kaku.
Dalam konteks guru ada disebut guru ahli dan guru pemula. Antara guru ahli dan guru pemula tidak ada rentangan umur yang pasti. Sebutan guru ahli dan guru pemula dibedakan atas kemampuan seorang guru. Pada umumnya, guru ahli adalah guru yang sudah berpengalaman mengajar, sedangkan guru pemula guru yang belum memiliki banyak pengalaman dalam mengajar atau bidang pendidikan lainnya.
Terkait dengan adanya perbedaan dan keragaman peserta didik di sekolah guru harus menyikapi dengan arif dan bijaksana. Perbedaan tersebut misalnya kesenjangan antara yang miskin dan kaya, antara kaum minoritas dan mayoritas, dan lain-lain.
Adanya keragaman ini berimplikasi terhadap pembelajaran di kelas. Implikasi tersebut teruma bagi guru adalah (1) sebagai guru dituntut untuk mengatasi perbedaan dengan menyediakan instruksi yang berbeda. (2) Dibutuhkan kerjasama dengan orang tua dan pengasuh anak didik agar selalu terlibat aktif dengan perkembangan yang terjadi di sekolah. (3) Keragaman penting karena hal tersebut merupakan upaya pendidikan dalam menutup kesenjangan prestasi anak didik. Guru juga harus mengembangkan hubungan kerja.
Terkait pembelajaran yang merata sesungguhnya sangat terbantu dengan adanya kemajuan teknologi yang pesat. Guru dapat menggunakan teknologi tersebut dalam mengemas pembelajaran yang lebih inovatif. Kemajuan teknologi ini dapat dijakan sarana untuk memberikan informasi kepada anak didik yang lebih akurat dan merata. Pemerataan ini sangat penting karena pendidikan yang merata mencerminkan tingkat kuaitas suatu masyarakat.
Dalam mencapai tujuan sebuah pendidikan perlu proses, tidak bisa dilakukan secara instan. Komponen utama untuk melaksanakan proses pembelajaran adalah guru.
Guru di Abad 21 diharapkan memiliki hal-hal sebagai berikut. (1) Guru tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar sesaat, tetapi juga memastikan bahwa anak didik berhasil mencapai standar yang telah ditetapkan. Hal ini dimaksudkan agar kelak anak didik dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya. (2) Setidaknya ada tiga tuntutan utama yang dihadapi oleh guru di abad 21 ini yaitu: adanya seperangkat standar yang hendaknya dicapai, meningkatnya kompleksitas keragaman yang dimiliki anak didik, dan adanya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. (3) Guru dituntut untuk meningkatkan cara pembelajaran yang inovatif dan kreatif menggunakan metode-metode yang baru. (4) Guru harus selalu belajar terus menerus agar menjadi seorang guru yang ahli dengan mengembangkan keahlian secara rutin dan adaptif. (5) Guru dituntut memiliki jiwa kepemimpinan yang memadai tidak hanya di sekolah, tetapi juga di masyarakat dan lingkungan keluarga anak didik.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan aktivitas untuk terjadinya perubahan perilaku yang melibatkan pikiran, fisik, dan perasaan. Guru memiliki tanggungjawab yang berat untuk dapat memfasilitasi siswa belajar.
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
