HarianBernas.com-Berpikir secara efektif merupakan suatu karakteristik yang bermanfaat dalam pembelajaran di sekolah pada tiap jenjangnya. Riset menunjukkan bahwa meskipun keterampilan dasar siswa tetap konsisten atau sedikit mengalami kenaikan, tetapi siswa tidak memperoleh keterampilan startegi berpikir secara efektif di sekolah. Padahal, jika siswa mempelajari cara berpikir tingkat yang lebih tinggi dan kompleks, maka masuk akal bahwa instruksi keterampilan berpikir tersebut dapat dipakai sebagai alat yang potensial untuk meningkatkan pembelajaran di sekolah.
Berpikir adalah proses menggunakan pikiran untuk mencari makna dan pemahaman terhadap sesuatu, menerapkan berbagai kemungkinan ide atau ciptaan dan membuat pertimbangan yang wajar, membuat keputusan dan menyelesaikan masalah dan seterusnya membuat refleksi dan metakognisi terhadap proses yang dialami. Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangun dan memperoleh pengetahuan. Dalam suatu proses pembelajaran, kemampuan berpikir siswa dapat dikembangkan dengan memperkaya pengalaman yang bermakna melalui persoalan pemecahan masalah.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut: (1) Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa, (2) Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pengajaran suatu bidang studi, (3) Pada kenyataannyasiswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing, dan (4) Pengajaran keterampilan memerlukan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Centered). Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam pengajaran keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif.
Ada keterkaitan antara taksonomi bloom dan keterampilan berpikir. Tingkatan taksonomi Bloom yakni: (1) pengetahuan (knowledge); (2) pemahaman (comprehension); (3) penerapan (application); (4) analisis (analysis); (5) sintesis (synthesis); dan (6) evaluasi (evaluation). Selanjutnya, revisi dilakukan oleh Kratwohl dan Anderson, taksonomi menjadi: (1) mengingat (remember); (2) memahami (understand); (3) mengaplikasikan (apply); (4) menganalisis (analyze); (5) mengevaluasi (evaluate); dan (6) mencipta (create). Tiga level pertama (terbawah) merupakan Lower Order Thinking Skills, sedangkan tiga level berikutnya Higher Order Thinking Skills. Namun demikian pembuatan level ini bukan berarti bahwa lower level tidak penting. Justru Lower Order Thinking Skill ini harus dilalui dulu untuk naik ke tingkat berikutnya.
Selain adanya jenjang klasifikasi keterampilan berpikir di atas, keterampilan berpikir juga dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu berpikir konvergen dan berpikir divergen. Berpikir konvergen berorientasi pada satu jawaban yang baik atau benar. Berfikir konvergen dimulai dengan mempertimbangkan sejumlah fakta dan solusi kemudian melalui eksperimen dan pengujian akan menghasilkan satu solusi. Konsep dan pendekatan untuk pengajaran yang berakar pada metode penyelidikan berbasis penyelidikan ilmiah cenderung mengandalkan berfikir konvergen. Ditandai dengan pertanyaan yang dimulai dengan ?mengapa??. Contoh: mengapa membekukan air pada suhu 32°C?, mengapa Amerika Serikat berperang pada tahun 1941?
Berpikir divergen adalah proses berpikir yang berorientasi pada penemuan jawaban atau alternatif yang banyak. Seseorang dikatakan berpikir divergen dalam memecahkan masalah jika memenuhi empat kriteria sebagai berikut: kelancaran berpikir, keluwesan, originalitas, dan elaborasi. Ditandai dengan pertanyaan terbuka seperti apa yang terjadi jika?. Keterampilan berpikir divergen membuka peluang siswa untuk berpikir kreatif.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang sering dikaji juga adalah keterampilan berpikir kritis dan keterampilan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kritis dan kreatif merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Critical Thinking adalah kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional. Chance (1986) mendefinisikannya sebagai kemampuan menganalisis fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan , menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah. Berpikir kritis tidak sama dengan mengkritik, mengecam ataupun berdebat. Berpikir kritis lebih bersifat netral dan obyektif. Dengan berpikir kritis, kita dapat menunjukkan kelebihan dan kekurangan serta menjelaskan alasan di balik itu. Dalam Critical Thinking cara berpikir hanya sampai tahap evaluasi dan memilih ide terbaik. Critical Thinking merupakan proses konvergen yang mempersempit ide-ide baru sehingga terpilih ide terbaik yang disesuaikan dengan keterbatasan dan sumber daya yang ada. Ciri berfikir kritis adalah menganalisis argument, mencari dan mengamati bukti pendukung, membuat kesimpulan (induktif maupun deduktif), mengidentifikasi asumsi-asumsi yang tersembunyi, mengambil keputusan untuk bertindak, menggunakan strategi dalam berinteraksi dengan orang lain.
Sedikit berbeda dengan Critical Thinking, maka Creative Thinking telah satu langkah lebih maju. Jika dalam Critical Thinking cara berpikir hanya sampai tahap evaluasi dan memilih ide terbaik, maka dalam Creative Thinking tahapnya sudah sampai memodifikasi ide menjadi ide cemerlang. Huitts (1992) membedakan kedua teknik pemecahan masalah atau cara berpikir ini. Ia mengatakan bahwa Critical Thinking cenderung lebih linier, berurutan, terstruktur, rasional dan berorientasi pada tujuan. Sedangkan Creative Thinking cenderung holistik dan parallel, lebih intuitif dan emosional, kreatif, visual dan taktual. Jika dikaitkan dengan dominasi lateralisasi otak, maka menurut Springer dan Deutsch (1993), berpikir kritis didominasi oleh otak kiri (analitik, sekuensial, logis dan objektif), sedangkan dominasi berpikir kreatif terletak pada otak kanan (global, parallel, emosional dan subyektif). Creative Thinking adalah proses divergen yang mengenerate ide-ide, imajinasi dan mencari hubungan antara unrelated concepts. Ciri berpikir kreatif adalah memiliki ide atau gagasan-gagasan baru, berani tampil beda atau melawan arus, memunculkan pemikiran yang tidak atau belum popular, optimistik, tidak takut mencoba, tidak takut gagal, dan berani menanggung resiko.
