HarianBernas.com-Howard Gardner dalam bukunya yang bertajuk Five Minds for The Future menyimpulkan adanya lima jenis pola pikir yang akan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah masa depan.
Lima pola pikir tersebut, yaitu:
(a) Discipline Mind-Kerangka Dasar atau Kerangka Utama Kecerdasan/Pemikiran. Seseorang harus memiliki paling tidak satu disiplin ilmu atau kerangka berpikir yang sangat dikuasai untuk memecahkan masalah di segala hal. Disiplin Mind juga berarti seseorang harus selalu melatih keahliannya tersebut untuk meningkatkan performansinya.
(b) Synthesizing Mind–Mensinergikan Ide dan Pemikiran dari Disiplin Ilmu Yang Berbeda. Seseorang harus mampu menggabungkan berbagai pola pemikiran dan disiplin ilmu agar dapat mengumpulkan informasi dan pengetahuan seluasnya dari berbagai macam sumber serta melahirkan berbagai macam ide dan ilmu pengetahuan baru yang bermanfaat.
(c) Creativity Mind-Membuka Tabir dan Memecahkan Masalah Melalui Kreativitas dan Ide Inovatif. Seseorang dituntut harus memiliki kreativitas berpikir. Kreativitas tersebut digunakan untuk membantu pemecahan masalah diluar cara yang sudah ditentukan sebagai alternative pemecahan masalah juga kemampuan membuat terobosan baru. Kreatifitas disini juga adalah suatu kemampuan menciptakan sesuatu yang tidak bisa diidentifkasi komponennya.
(d) Respectful Mind-Penghargaan Perbedaan Dengan Orang Lain. Seseorang yang harus memiliki Respectful Mind agar dapat menerima dan menghargai pendapat dan perbedaan dengan orang lain, agar dapat bekerja sama, dan mampu menciptakan suasana keterbukaan dan hubungan timbal-balik serta tenggang rasa dan toleransi. Sangat penting untuk ditanamkan pemikiran bahwa hak dan kewajiban serta kemauan seseorang itu terbatas oleh hak, kewajiban, dan kemauan orang lain. Sehingga apabila pemikiran itu bisa diterapkan maka setiap orang sudah memiliki respectful mind yang diharapkan.
(e) Ethical Mind-Berpikir untuk orang lain demi kepentingan bersama. Ethical Mind adalah kemampuan/kecerdasan seseorang untuk berpikir diluar keinginan pribadi dan diluar kemampuan diri yang telah dimiliki. Sebenarnya ethical mind ini sangat erat hubungannya dengan respectful mind dan synthesizing mind, serta creativity mind. Seperti dasar pemikiran respectful mind bahwa hak, kewajiban, serta kemauan seseorang terbatas oleh hal yang sama dari orang lain, maka ethical mind pun seperti itu sehingga dia sangat tahu dimana menemaptkan diri dan bersikap serta apa yang boleh dan dapat diperbuatnya. Seseorang yang memiliki ethical mind itu tentunya sangatlah cerdas karena dia harus dapat respect ke lingkungan sekitar sehingga dengan kemampuannya dapat bekerjasama dan mensinergikan berbagai pengetahuan dipadu dengan creativity mind yang dimiliki.
Dua dimensi dalam pendidikan yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan meliputi pengetahuan factual (berisi elemen-elemen dasar yang harus diketahui para murid jika mereka akan dikenalkan dengan suatu disiplin atau untuk memecahkan masalah apapun di dalamnya), pengetahuan konseptual (meliputi skema-skema, model-model mental, atau teori-teori eksplisit dan implisit dalam model- model psikologi kognitif yang berbeda), pengetahuan prosedural (pengetahuan mengenai bagaimana melakukan sesuatu). Dimensi proses kognitif meliputi: mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (apply), menganalisa (analyze), mengevaluasi (evaluate) dan menciptakan (create). Dua tujuan dimensi proses kognitif yang terpenting adalah untuk mengembangkan daya ingat dan mendorong terjadinya proses transfer. Terjadinya proses transfer merupakan tanda keberhasilan proses belajar. Daya ingat atau Retention merupakan kemampuan seorang siswa untuk megingat materi-materi pelajaran beberapa saat sesudah pengajaran dengan sama akuratnya seperti pada saat siswa tersebut mengikuti pelajaran tersebut. Kategori proses mengingat atau remembering merupakan proses yang sangat berhubungan dengan proses daya ingat. Kelima kategori proses lainnya lebih berkaitan dengan proses transfer, yaitu kategori proses memahami ( understanding), menerapkan (apply), menganalisa (analyze), mengevaluasi (evaluate) dan menciptakan (create).
Pengetahuan metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya. Secara ringkas metakognitif dapat diistilahkan sebagai ?thinking about thingking?. Tujuan metakognisi adalah mengajarkansiswa untuk belajar sendiri agar menjadi pembelajar mandiri. Aspek metakognisi, yaitu (a) Komponen pengetahuan: pemahaman siswa bagaimana orang belajar dan tentang proses kognitif dan metakognitif mereka sendiri, (b) Komponen keterampilan: kemampuan siswa untuk mengidentifikasi, menggunakan, mengevaluasi kognitif dan strategi pembelajaran metakognitif, dan (c) Aspek disposisi: kemauan bekerja kearah self regulation dan menerapkan strategi tertentu ketika siyuasi belajar menuntut hal tersebut. Langkah-langkah metakognisi adalah menekankan pentingnya strategi metakognisi, mengajarkan strategi waktu belajar, memberikan penjelasan yang akurat dan pemodelan, memberikan kesempatan praktek dengan umpan balik, mendorong siswa untuk memantau yang mereka lakukan.
Kondisi kelas yang kondusif berkaitan dengan kondisi siswa saat proses pembelajaraan sedang dilakukan. Kondisi kelas yang baik menuntut terjadinya interaksi antara guru dan siswa dengan baik dan saling menghargai, sehingga penyerapan materi yang disampaikan guru kepada siswa dapat berjalan maksimal, yang akan menghasilkan hasil belajar seperti apa yang diharapkan. Kondisi kelas yang kondusif akan mengakomodir pencapaian eksplorasi bakat dan siswa dengan maksimal pula. Dalam praktiknya, kondisi kelas yang kondusif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran di kelas yang harus diusahakan oleh guru. Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru untuk mendukung proses berpikir siswa di lingkungan kelas: harapan tinggi dan sikap optimis untuk berfikir, memberikan waktu untuk merumuskan pertanyaan dan mempelajari topik lebih mendalam, menyediakan banyak kegiatan yang terarah, menyediakan alat dan pola berfikir yang digunakan saat belajar, menggunakan bahasa dan kosakata untuk menggambarkan dan merefleksikan pemikiran, menggunakan demonstrasi/modeling, menunjukkan sikap baik untuk merangsang proses berfikir dan ide-ide siswa, dan menggunakan lingkungan fisik (gambar, portofolio, kerajinan tangan) ditampilkan di seluruh ruangan.