Bernas.id – Saat ini sudah terdapat beberapa daerah yang sudah mengembangkan desa wisata bahasa khususnya bahasa Inggris sebagai potensi wisatanya. Sebut saja Desa Bahasa di Magelang, Kampung Inggris di Pare, Jawa Timur dan saat ini pemerintah daerah Purbalingga sedang menggarap desa wisata bahasa yang serupa. Desa wisata merupakan salah satu konsep pembangunan industri pariwisata di Tanah Air dengan menonjolkan keindahan alam setempat atau kelebihan lainnya dari sisi adat-istiadat dan budaya. Desa wisata tematik khususnya bahasa menawarkan wisata edukasi berupa bimbingan dan pelatihan bahasa
Tren eduwisata ini nampaknya mulai dilirik oleh para pemerintah daerah untuk menggaet wisatawan datang berkunjung ke daerahnya. Memang daerah yang menerapkan konsep ini masih belum banyak jika dibandingkan dengan konsep desa wisata budaya yang sudah menjamur di mana-mana, akan tetapi konsep yang tergolong baru ini jika dijalankan secara profesional akan mendatangkan income yang tidak sedikit.
Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari kesuksesan Kampung Inggris yang terletak di Desa Singgahan dan Desa Tulungrejo Kecamatan Pare, Kediri Jawa Timur, memiliki lebih dari 100 lembaga kursus bahasa Inggris. Salah satunya adalah komitmen bersama para warga yang sangat kuat dalam mendukung program ini, misalnya dengan menyediakan tempat tinggal, sarana prasarana lain yang dibutuhkan para pengunjung yang datang untuk belajar. Paket kursus dan biaya tempat tinggal yang dipatok juga tidak terlalu mahal, pengunjung atau calon siswa dapat memilih paket sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Berdasarkan laporan statistik setiap tahunnya, jumlah pengunjung Kampung Inggris mencapai lebih dari 15.000 pengunjung yang ingin belajar.
Begitu juga dengan Desa Wisata Bahasa Borobudur, jumlah pengunjung meningkat hingga 80% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Para pengunjung yang sebagian besar merupakan pelajar datang pada musim liburan untuk belajar bahasa Inggris sambil menikmati keindahan panorama wisata di Borobudur. Kelebihan dari desa wisata Borobudur ini adalah para pengelolanya berani menawarkan paket belajar bahasa Inggris mudah dan menyenangkan serta ada garansi uang kembali jika pengunjung dalam enam hari tidak dapat berbicara dalam Bahasa Inggris. Keunikan lainnya, pengelola juga mengajak para peserta untuk melakukan kegiatan outdoor seperti rafting, outbond dan juga hunting turis untuk praktek berbahasa di kawasan Borobudur.
Namun sayangnya, belum ada daerah yang ?berani? mengangkat dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai komoditas utama dalam pengelolaan desa bahasa. Masih terbatas pada bahasa asing misalnya bahasa Inggris atau Arab. Mengapa tidak bahasa nasional kita saja, bahasa Indonesia? Jika mempelajari bahasa Inggris secara intensif di kampung bahasa maka kemungkinan besar pengunjung atau calon siswa yang datang hanyalah masyarakat lokal. Maka jika kita menggunakan Bahasa Indonesia sebagai materi utama pembelajaran di kampung bahasa, sasaran utamanya adalah wisatawan mancanegara. Selain memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat setempat, kita juga ikut serta mendukung program pemerintah dalam menginternasionalisasikan bahasa Indonesia.
Sebagai bangsa Indonesia, sudah seharusnya kita bangga dengan bahasa ibu kita dan mulai mendukung program pemerintah pusat untuk membuat bahasa Indonesia Go Internasional. Sesuai dengan Undang-undang No 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta lagu kebangsaan, pasal 44 mengamanatkan; 1) Pemerintah meningkatkan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional secara bertahap, sistematis dan berkelanjutan, 2) Peningkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasi oleh lembaga kebahasaan, 3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengingkatan fungsi Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Salah satu caranya adalah dengan mendirikan desa berkonsep wisata bahasa Indonesia ini. Di sini akan diajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing dengan berbagai macam level kemampuan dimulai dari dasar, menengah dan tinggi yang terbagi dalam level A1, A2, B1, B2 dan C1, C2. Tentu saja pengelola desa wisata bahasa dapat membuat dan menyusun beragam paket pembelajaran bahasa lain, misalnya bahasa Indonesia untuk pariwisata bagi orang asing yang hanya ingin mempelajari bahasa Indonesia untuk berwisata di Indonesia. Bahasa Indonesia untuk perdagangan dapat dipilih bagi orang asing yang ingin berbisnis dan mencari mitra dagang di Indonesia. Paket eduwisata ini dapat juga diintegrasikan dengan muatan lokal kebudayaan dan memanfaatkan potensi wisata lokal. Sebagai contoh mengajarkan bahasa dengan kegiatan memasak masakan khas Indonesia, menari tarian tradisional, membajak sawah, kenduri, dan kegiatan bersifat budaya lainnya sehingga dapat memikat perhatian wisatawan asing untuk datang berkunjung.
Keunggulan yang akan didapat oleh para pembelajar tentunya mereka akan jauh lebih cepat mendalami bahasa Indonesia karena berada pada lingkungan penutur asli bahasa Indonesia, bahkan dapat menyelami kebudayaan lokal Indonesia juga. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui!
