SLEMAN, BERNAS.ID- Pakar Iklim dari UGM, Dr Emily Nurjani menjelaskan bahwa suhu dingin yang terjadi di musim kemarau merupakan fenomena normal. Suhu dingin tersebut berasal dari aliran massa udara dingin dan kering dari benua Australia yang bergerak menuju benua Asia.
Angin monsun Australia dengan karakteristik membawa sedikit uap air menjadikan potensi terjadinya pembentukan awan relatif kecil. Atmosfer dengan tutupan awan yang sedikit menjadikan udara lebih dingin, khususnya waktu malam hari.
?Tutupan awan yang sedikit menjadikan pancaran panas dari bumi dilepaskan langsung ke atmosfer pada malam hari. Hal tersebut menjadikan tidak adanya penambahan panas di bumi sehingga suhu menjadi lebih rendah dan lebih dingin dari biasanya,? jelasnya saat dihubungi Rabu 7 Agustus 2018.
Emily menyebutkan kondisi berbeda akan terjadi saat banyak tutupan awan di atmosfer menjadikan pancaran panas bumi yang dipantulkan ke atmosfer menjadi terhalang awan sehingga kembali ke bumi yang menjadikan suhu bumi meningkat. ?Kemungkinan suhu dingin ini akan terus berlangsung hingga akhir Agustus ini. Namun jika ada fenomena lain yang memicu terbentuknya hujan maka suhu dingin ini akan hilang,? tutur dosen Fakultas Geografi UGM ini.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dengan memakai baju hangat atau tebal agar suhu tubuh tetap terjaga. (jat)
