SLEMAN, BERNAS.ID – Indonesia merupakan negara dengan megabiodiversitas yang kaya dengan keanekaragama hayati, termasuk jenis flora atau tumbuhan. Dari berbagai tanaman itu terdapat beberapa yang endemik atau khas Daerah Istimewa Yogyakarta.
Diungkapkan Guru Besar Ilmu Taksonomi Tumbuhan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Purnomo, M.S., tanaman Kepel (Stelechocarpus Burhanol) merupakan flora identitas provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. “Kepel merupakan tanaman khas DIY,” ujarnya, Sabtu (21/9/2019) saat ditemui di Auditorium Fakultas Biologi UGM.
Dia menjelaskan Kepel menjadi tanaman yang dipercaya memiliki nilai filosofi adiluhung bagi masyarakat Yogyakarta. Pohon ini melambangkan bersatunya niat dengan kerja atau sebagai lambang kesatuan, keutuhan mental dan fisik.
“Makna dari Kepel itu sendiri adalah genggaman tangan manusia yang berarti 'greget' atau niat dalam bekerja,” jelasnya.
Ditambahkannya, selain tanaman Kepel, terdapat sejumlah tanaman lain yang menjadi khas dan langka di Yogyakarta. Salah satunya adalah Keben (Baringtonia Asiatica) yang sering disebut sebagai pohon perdamaian. “Di lingkungan Keraton Yogyakarta, pohon ini memiliki filosofi tersendiri. Keben berasal dari kata 'Hangrungkebi jejering bebener' yang artinya merangkul kebenaran. Pohon ini sekaligus melambangkan manusia harus menjunjung tinggi nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Lanjutnya, beberapa tanaman khas dan langka di Yogyakarta lainnya yakni beringin (Ficus Benjamina) yang memiliki filosofi kokoh kuat dan mengayomi. “Selanjutnya jambu dersana (Eugenia Jambos) yang berasal dari kara sudarsana berarti suri tauladan. Tanaman ini memiliki filosofi bahwa pemimpin harus bisa menjadi contoh terhadap yang dipimpinnya,” imbuhnya.
Berikutnya, tanaman Gayam (Inocarpus Eudulis) dalam bahasa Jawa berarti nggayuh atau meraih sesuatu. Hal ini dimaksudkan agar manusia mempunyai keinginan mencari jalan keutamaan hidup, mengharap anugerah dan berkah Sultan. Pohon ini sekaligus melambangkan ayom (teduh) atau ayem (tentram).
“Tanjung (Mimuspos Elengi) dan sawo kecik (Manilkara Kauki) juga menjadi tanaman khas dan langka di DIY,” kata Dosen Fakultas Biologi UGM ini.
Purnomo juga menyampaikan sejumlah tanaman khas Indonesia yang keberadaannya sudah tergolong langka. Beberapa diantaranya yaitu buni, manggis, kantil, klerak, sawo bludru, kepuh, serta kemenyan. Berbagai tanaman tersebut telah menjadi koleksi Museum Biologi UGM
Dia juga banyakmengatakan bahwa banyak spesies tanaman menjadi langka dan terancam punah karena mengalami tekanan populasi di habitat alamiahnya. Berbagai faktor yang menyebabkan kepunahan spesies tanaman di alam seperti perubahan iklim, kebakaran hutan, pembalakan, pemanfaatan berlebihan, serta pembukaan lahan pertanian, perkebunan, dan kehutanan. (cdr)
