SURABAYA, 3 September 2024 – Kuliah Tamu yang disampaikan oleh Dokter Dito Anurogo, M.Sc, Ph.D. (Cand.) di Ruang Kuliah Internasional 4, Gedung Sekolah Pascasarjana, Kampus B Universitas Airlangga (UNAIR) membahas mengenai perkembangan terkini manajemen HIV/AIDS melalui pendekatan Nanoimmunobioteknomedisin (NiBTM).
Guest lecture tersebut diselenggarakan oleh Program Studi S2 Ilmu Imunologi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga, sekitar dua jam pada Selasa, 3 September 2024.
Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., selaku Vice Rector in Research, Community Services, Digitalization, and Internationalization, Post Graduate School, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia menekankan pentingnya imunologi di segala bidang kehidupan.
Baca Juga : Daftar terbaru Rumah Sakit dan Laboratorium Stem Cell Resmi di Indonesia 2024
Paparan beliau memberikan kesejukan dan menyegarkan suasana karena diselipi humor ilmiah yang bernas.
Saat acara inti, diaspora dari IPCTRM College of Medicine, Taipei Medical University (TMU), Taiwan ini memulainya dengan paparan rinci tentang 76 logical fallacy atau kesesatan berpikir yang berpotensi muncul di dalam publikasi dan riset imunologi, kedokteran, dan kesehatan.
Hal ini sangat penting sebagai pondasi awal untuk melakukan riset dan publikasi, agar tidak terjebak di dalam pseudosains dan tetap menjaga validitas dan realibilitas hasil publikasi.
Lebih lanjut, penulis “The Art of Medicine, Stem Cells Made Easy, serta puluhan buku” ini menyoroti pentingnya integrasi nanoteknologi dan imunobioteknologi dalam pengobatan HIV/AIDS yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan dan membuka potensi penyembuhan.
Salah satu tantangan terbesar dalam manajemen HIV/AIDS adalah keberadaan reservoir HIV di berbagai bagian tubuh seperti otak dan jaringan limfoid yang membuat terapi konvensional sulit menembus dan sepenuhnya mengeliminasi virus.
Nanoteknologi memberikan solusi inovatif dengan sistem pengiriman obat yang lebih presisi, seperti penggunaan nanokarier berbasis lipid untuk mengarahkan terapi antiretroviral (ART) ke reservoir ini.
Selain itu, terapi gen dan sel menjadi sorotan dalam pendekatan ini. Modifikasi genetik sel punca (stem cells) untuk menciptakan resistensi terhadap infeksi HIV, serta penggunaan sel gamma delta T yang memiliki kemampuan sitotoksik terhadap sel yang terinfeksi HIV, menawarkan harapan baru dalam eliminasi virus.
Pengembangan nanopartikel untuk mengirimkan terapi RNA juga merupakan langkah penting dalam menekan reaktivasi HIV dari reservoir laten.
Perkembangan virologi HIV juga dipaparkan, termasuk penggunaan nanoteknologi untuk memperbaiki pengiriman ART ke otak serta potensi penggunaan teknologi CRISPR-Cas9 untuk mengedit DNA HIV di dalam tubuh.
Teknologi ini memberikan harapan untuk penyembuhan fungsional atau bahkan eradikasi virus.
Dalam konteks pengembangan obat, dokter pemerhati multi-lintasdisipliner keilmuan ini juga menjelaskan inovasi antiretroviral yang disetujui oleh FDA, seperti long-acting ART (LA-ART) yang mengurangi frekuensi konsumsi obat harian menjadi hanya enam suntikan per tahun.
Hal ini membantu meningkatkan kepatuhan pasien dalam jangka panjang. Selain itu, penelitian terus berkembang untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitas obat melalui pendekatan seperti nanogels dan nanodiamonds yang dapat menembus blood-brain barrier, area yang sulit dijangkau oleh terapi konvensional.
Peraih penghargaan “Best Idea” di forum The 5th International Conference on Religious and Cultural Sciences itu memaparkan pentingnya kontrol epigenetik dalam pengelolaan HIV, terutama dalam menjaga virus dalam keadaan dorman dan tidak terdeteksi oleh sistem imun. Pendekatan baru seperti penggunaan Zinc Finger Proteins (ZFP) dan skrining CRISPR untuk mengidentifikasi regulator epigenetik menawarkan potensi target baru dalam intervensi terapeutik untuk HIV laten.
Menariknya lagi, pemilik atribut WWPO (WorldWide Peace Organization) Peace
Ambassador di Indonesia tersebut menjelaskan tentang platform quantum vaccinomics untuk identifikasi antigen pelindung dan pengembangan vaksin.
Sistem ini mengintegrasikan dataset omik menggunakan biologi sistem serta analitik Big Data dan pembelajaran mesin. Antigen pelindung diidentifikasi melalui prediksi epitop secara in
silico dan diuji menggunakan pendekatan in vitro, in silico, dan in music untuk interaksi protein-protein.
Teknologi ini memetakan epitop pelindung dan mengidentifikasi domain protein yang berinteraksi, menciptakan quantum imunologis yang digunakan dalam pengembangan vaksin berbasis chimeric.
Baca Juga : Mengupas Kemajuan Terbaru dalam Alergi dan Imunologi Klinis pada Kongres EAACI 2024 di Valencia, Spanyol
Pada akhirnya, pria kelahiran Semarang, 23 Juli ini menekankan bahwa manajemen HIV/AIDS memerlukan pendekatan multidisiplin, yang melibatkan kombinasi teknologi imunoterapi, nanoteknologi, dan terapi gen untuk menciptakan strategi pengobatan yang lebih efektif.
Melalui pendekatan inovatif ini, harapan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita HIV dan mungkin mencapai penyembuhan menjadi lebih nyata.
Kuliah tamu ini memberikan rekomendasi bahwa penelitian di bidang Nanoimmunobioteknomedisin perlu terus dikembangkan dengan fokus pada penerjemahan terapi berbasis nanoteknologi ke praktik klinis dan memperhatikan akses yang adil bagi semua orang yang membutuhkan.
Pendekatan berbasis bukti dan
kolaborasi interdisipliner sangat diperlukan untuk memastikan bahwa terapi ini dapat diimplementasikan secara luas di masyarakat.

Kuliah tamu ini dihadiri oleh puluhan peserta yang hadir baik secara online maupun offline. Kegiatan berlangsung secara tertib dan lancar. Para peserta pulang membawa ilmu pengatahuan dan pengalaman yang sangat berharga.
Kegiatan kuliah tamu juga menjadi semakin menarik karena ada pembagian doorprize berupa voucher bimbingan
publikasi senilai total Rp 24 juta rupiah dan give away khusus souvernir cantik khas Taiwan bagi para penanya terpilih.
Foto-foto kegiatan ini dapat diakses di:
bit.ly/S2ImunologiUNAIR adapun video kegiatan dapat diakses di
bit.ly/Video_GuestLecture_NiBTM_DitoAnurogo
[Liputan Kegiatan oleh: Humas
Prodi Magister Imunologi Sekolah Pascasarjana Unair]
