BERNAS.ID – Angka 4 telah lama dianggap sebagai angka pembawa kesialan dalam budaya Tionghoa. Fenomena ini tidak hanya muncul dari keyakinan tradisional dan Fengshui, tetapi juga melibatkan aspek psikologis dan sosial dalam kehidupan modern.
Penjelasan mengenai pandangan negatif terhadap angka 4 dapat dilihat dari multiperspektif, termasuk bahasa, adat istiadat, Fengshui, dan ilmu kognitif.
Dalam artikel ini, kita akan membahas alasan di balik ketakutan terhadap angka 4 dan dampaknya dalam arsitektur serta kehidupan sehari-hari di berbagai komunitas Tionghoa.
Homonim Bahasa Mandarin: Pengaruh dari Kematian
Salah satu alasan utama angka 4 dihindari dalam budaya Tionghoa adalah karena pelafalannya yang serupa dengan kata “kematian”. Dalam bahasa Mandarin, angka 4 diucapkan sebagai “sì” (四), yang sangat mirip dengan kata “sǐ” (死) yang berarti “mati”. Konotasi negatif ini memicu ketakutan akan angka tersebut dan sering dikaitkan dengan nasib buruk atau kemalangan.
Baca Juga : Perayaan Zhong Qiu Jie di Klenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan
Karena itu, orang Tionghoa cenderung menghindari angka 4 dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam dunia properti, nomor rumah atau apartemen yang mengandung angka 4 sering kali dihindari.
Beberapa bangunan bahkan melewatkan lantai ke-4 dalam penomoran lantai, melompat dari lantai 3 langsung ke lantai 5. Kepercayaan ini meluas hingga pada penomoran dalam lift, hotel, dan fasilitas umum lainnya.
Aspek Psikologis: Tetraphobia
Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai tetraphobia, yakni ketakutan yang tidak rasional terhadap angka 4. Tetraphobia sering kali muncul karena asosiasi negatif terhadap angka tertentu yang memiliki hubungan dekat dengan kata atau konsep yang menakutkan, seperti kematian.
Studi dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa kecemasan terhadap angka ini bisa memengaruhi keputusan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal pembelian properti atau penomoran lantai bangunan (Tobias, 2022).
Fengshui dan Energi Negatif: Sha Qi
Selain alasan linguistik dan psikologis, angka 4 juga dianggap membawa energi negatif dalam praktik Fengshui, yaitu sistem kepercayaan kuno yang digunakan untuk menciptakan keseimbangan energi dalam sebuah ruang.
Fengshui mempercayai bahwa angka tertentu memiliki makna simbolis dan mampu memengaruhi aliran energi di dalam bangunan. Angka 4 diyakini memicu aliran energi negatif atau sha qi (energi pembunuh), karena konotasinya dengan kematian.
Baca Juga : PBTY 2024 Akan Tonjolkan Edukasi Budaya
Hal ini berlawanan dengan angka-angka lain, seperti angka 8, yang dianggap membawa kemakmuran dan keberuntungan.
Dalam konteks Fengshui, angka 4 sering dihindari dalam perancangan bangunan dan tata letak ruang karena dianggap merusak harmoni dan keseimbangan energi positif (Qi). Ini menjelaskan mengapa banyak bangunan di negara-negara dengan populasi Tionghoa yang signifikan dirancang tanpa lantai 4 atau nomor unit yang mengandung angka 4 (Zhao & Xu, 2019).
Arsitektur Modern: Menghindari Angka 4 dalam Desain
Dampak dari kepercayaan ini tidak hanya terbatas pada aspek spiritual, tetapi juga tercermin dalam desain arsitektur modern. Di negara-negara seperti Hong Kong, Taiwan, dan Singapura, pengembang properti sering kali menghindari penggunaan angka 4 untuk menjaga kenyamanan psikologis calon pembeli dan penghuni.
Lift di banyak gedung komersial atau apartemen tidak memiliki tombol lantai 4, dan nomor kamar hotel yang mengandung angka 4 biasanya dilewatkan.
Baca Juga : Perayaan Peh Cun 2024 di Pantai Parangtritis Hadirkan Tari-tarian dari Paguyuban Tionghoa di Yogyakarta
Praktik ini dilakukan sebagai strategi komersial untuk menarik konsumen yang mungkin mempercayai nasib buruk yang diasosiasikan dengan angka 4. Penghindaran ini bahkan terbukti efektif dalam menjaga nilai properti dan meningkatkan daya tarik bagi pembeli yang khawatir akan energi negatif dari angka tersebut (Liu, 2020).
Epilog
Kepercayaan terhadap angka 4 sebagai angka yang membawa kesialan memiliki akar kuat dalam tradisi dan budaya Tionghoa. Pengaruhnya dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, psikologi, hingga desain arsitektur modern. Kombinasi antara makna linguistik, persepsi energi negatif dalam Fengshui, dan fenomena tetraphobia menciptakan stigma yang mendalam terhadap angka ini. Oleh karena itu, angka 4 cenderung dihindari dalam kehidupan sehari-hari di banyak komunitas Tionghoa, termasuk dalam penomoran rumah, lantai, dan unit bangunan, demi menjaga keseimbangan energi positif dan menghindari kesialan.
(Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.(Cand.), kandidat doktor di IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dosen di FKIK Unismuh Makassar, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, WorldWide Peace Organization (WWPO) Peace Ambassador in Indonesia, Dokter pengampu Telemedicine di SMA Negeri 13 Semarang, penulis puluhan buku di antaranya: “The Art of Medicine”, “The Art of Televasculobiomedicine 5.0”, “The Art of Onconomics 5.0”, “Stem Cells Made Easy”, “Digital Health Made Easy”, “Ensiklopedia penyakit dan gangguan kesehatan”, reviewer puluhan jurnal nasional dan internasional, penulis-trainer berlisensi BNSP, juga tergabung dalam berbagai organisasi di: Perhimpunan Periset Indonesia, MABBI, INBIO INDONESIA, Kagama, Asosiasi Wisata Medis Indonesia, ADEWI-PERKEWINDO, Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia, Serikat Pekerja Kampus)
