BERNAS.ID – Kanker payudara adalah jenis kanker yang sangat beragam, dengan berbagai tipe yang memiliki karakteristik unik dan membutuhkan penanganan khusus.
Salah satu subtipe yang paling ganas dan paling sulit diobati adalah Triple Negative Breast Cancer (TNBC), yaitu kanker payudara yang tidak memiliki tiga jenis reseptor utama: estrogen (ER), progesteron (PR), dan HER2. Karena tidak adanya ketiga reseptor ini, TNBC tidak dapat diobati dengan terapi hormon atau terapi yang menargetkan HER2, sepertiyang umum pada jenis kanker payudara lain.
Ini membuat pilihan pengobatan terbatas pada kemoterapi dan imunoterapi, yang sering kali kurang efektif.
Meski TNBC terdengar “negatif” karena tidak memiliki reseptor-reseptor tersebut,
kanker ini justru lebih progresif dan berbahaya. TNBC lebih cepat berkembang, memiliki
risiko kekambuhan yang tinggi, dan sering kali menyebar atau bermetastasis ke organ lain. Mari kita pahami lebih dalam mekanisme yang membuat TNBC begitu agresif, serta jalur-jalur molekuler yang mendukung perkembangannya.
Baca Juga : Khasiat dan Cara Mengolah Daun Sirsak untuk Pengobatan Kanker
Jalur Cross-Talk dan Jalur Canonical di TNBC
Kanker payudara triple negatif mengandalkan mekanisme-mekanisme jalur tertentu
dalam tubuh untuk bertahan dan berkembang. Di sinilah peran “cross-talk” (hubungan
antarjalur yang saling berkomunikasi) dan jalur “canonical” (jalur utama dalam sistem
tubuh) dalam mendukung agresivitas TNBC.
Berikut beberapa jalur penting yang
memberi energi bagi perkembangan kanker TNBC.
Pertama, Jalur PI3K/AKT/mTOR
Jalur ini bisa diibaratkan sebagai ‘mesin’ yang terus-menerus memberikan suplai energi
bagi sel-sel kanker untuk berkembang. Di TNBC, jalur PI3K/AKT/mTOR ini sangat aktif,
yang membuat sel-sel kanker terus bertahan hidup dan membelah, bahkan tanpa
adanya stimulasi hormon seperti pada kanker payudara lain.
Jalur ini juga membuat sel-sel kanker menjadi lebih resistan terhadap kemoterapi. Dengan kata lain, meski “bahan bakar” (reseptor hormon) tidak ada, sel-sel TNBC tetap bisa melaju kencang berkat jalur PI3K/AKT/mTOR ini.
Kedua, Jalur MAPK/ERK
Jalur MAPK (Mitogen-Activated Protein Kinase) bertindak sebagai pengendali pembelahan dan pertumbuhan sel, yang seharusnya teratur dalam tubuh yang sehat.
Namun, pada TNBC, jalur ini selalu “aktif”, membuat sel-sel kanker terus membelah
tanpa henti. Bayangkan jalur ini seperti pedal gas yang terus diinjak tanpa rem, sehingga memungkinkan kanker berkembang pesat dan menyebar ke organ lain (metastasis).
Ketiga, Jalur NOTCH
Jalur NOTCH terlibat dalam proses “self-renewal” (kemampuan memperbarui diri) sel-
sel punca kanker (cancer stem cells), yang merupakan sel-sel yang sering kali sulit
dihancurkan dengan terapi biasa.
Di TNBC, jalur NOTCH berkolaborasi dengan jalur PI3K/AKT, yang memungkinkan sel kanker beradaptasi dalam kondisi lingkungan yang
sulit, seperti kekurangan oksigen (hipoksia). Dengan kata lain, sel kanker di TNBC bisa
bertahan dalam kondisi ekstrem yang akan membuat sel normal tak mampu bertahan
hidup.
Keempat, Jalur WNT/β-catenin
Jalur WNT adalah jalur penting untuk perkembangan sel punca kanker pada TNBC.
Jalur ini bisa dianggap seperti “pelindung” yang melindungi sel-sel kanker dari kematian
atau apoptosis (proses alami tubuh untuk menghancurkan sel-sel yang abnormal).
Dengan adanya jalur ini, sel-sel kanker semakin kuat dan sulit dihancurkan oleh terapi
yang ada. Interaksi antara jalur WNT dan jalur lain seperti PI3K dan NOTCH memperkuat pertumbuhan kanker dan mendukung penyebarannya.
Kelima, Jalur Hipoksia (HIF-1α)
Tumor pada TNBC sering kali berkembang di area dengan kadar oksigen rendah atau
hipoksia. Kondisi ini memicu faktor transkripsi HIF-1α (Hypoxia-Inducible Factor 1-
alpha) untuk mengaktifkan gen-gen yang mendukung pembentukan pembuluh darah
baru (angiogenesis) dan invasi.
HIF-1α ini seperti “alarm darurat” yang mengirimkan sinyal bagi tubuh untuk menciptakan pembuluh darah di sekitar tumor, mempercepat perkembangan dan penyebaran kanker.
Mengapa TNBC Bersifat Negatif tetapi Sangat Progresif?
Sifat TNBC yang “negatif” atau tidak memiliki reseptor utama ini justru menjadi faktor
utama yang membuatnya sulit diobati dan sangat progresif. Mari kita simak lebih
mendalam mengapa hal ini dapat terjadi.
Pertama, TNBC Tidak Bergantung pada Reseptor Hormon Tradisional
Kebanyakan kanker payudara bergantung pada reseptor estrogen, progesteron, atau HER2 untuk tumbuh dan berkembang. Seperti mesin yang bergantung pada bahan bakar tertentu, jika bahan bakar itu tidak ada, mesin pun berhenti.
Namun, TNBC berbeda karena tidak membutuhkan “bahan bakar” tersebut, sehingga ia berkembang dengan cara lain yang lebih agresif melalui jalur-jalur yang sudah dijelaskan. Akibatnya, TNBC tidak bisa diatasi dengan terapi hormon, sehingga pilihan pengobatan menjadi lebih terbatas.
Kedua, Tingginya Proporsi Sel Punca Kanker (Cancer Stem Cells)
TNBC memiliki lebih banyak sel punca kanker dibandingkan subtipe lain. Sel punca
kanker (cancer stem cells) adalah sejenis sel “intisari” dari kanker yang memiliki
kemampuan bertahan hidup lebih kuat, berproliferasi (membelah) lebih cepat, dan lebih resistan terhadap kemoterapi.
Hal ini menyebabkan kanker TNBC mudah kambuh setelah pengobatan dan cenderung cepat menyebar ke bagian tubuh lain.
Katiga, TNBC Memiliki Tingkat Mutasi Genetik Tinggi
TNBC sering kali memiliki tingkat mutasi genetik yang tinggi, termasuk mutasi pada gen
BRCA1/2, yaitu gen yang seharusnya berfungsi memperbaiki kerusakan DNA dalam sel. Ketika mekanisme perbaikan DNA ini rusak, sel-sel kanker lebih mudah bermutasi dan berubah menjadi lebih agresif. Ibarat mobil tanpa rem, TNBC terus melaju dan berkembang dengan kecepatan yang tidak terkendali.
Keempat, Lingkungan Mikro di Sekitar TNBC yang Mendukung
Di sekitar sel-sel TNBC, terdapat lingkungan mikro (microenvironment) yang terdiri dari
berbagai jenis sel, seperti fibroblas dan sel-sel imun yang mendukung perkembangan
kanker. Lingkungan ini mengaktifkan proses inflamasi (peradangan) dan angiogenesis
(pembentukan pembuluh darah baru) yang mendukung sel kanker untuk terus
berkembang.
Baca Juga : IMUNOTERAPI: Sang Pemberi Harapan nan Revolusioner untuk Penderita Kanker dan Penyakit Autoimun
Bayangkan TNBC seperti sebuah tanaman yang tak hanya memiliki akar kuat tetapi juga lingkungan tanah dan udara yang mendukung pertumbuhannya.
Kelima, Jalur Signal yang Aktif Konstitutif
Pada TNBC, jalur-jalur seperti PI3K/AKT/mTOR, MAPK, dan NOTCH selalu aktif, membuat kanker tumbuh tanpa henti. Aktivasi yang konstitutif ini memberi sinyal bagi sel kanker untuk terus membelah (proliferasi), bertahan hidup (resistansi terhadap apoptosis), dan menyebar (metastasis).
Dengan adanya jalur-jalur ini, TNBC bisa
bertahan meskipun mendapat pengobatan yang keras seperti kemoterapi, karena sel-
selnya mampu “menolak” terapi tersebut.
Tantangan Terapi TNBC
Memahami seluk-beluk TNBC menjadi penting untuk menemukan solusi baru dalam
pengobatannya. Saat ini, para ilmuwan terus mengeksplorasi berbagai pendekatan
terapi, seperti kombinasi imunoterapi dengan target molekuler, yang diharapkan mampu
menghancurkan kanker ini lebih efektif.
TNBC mungkin terkesan “negatif” dalam hal
reseptor, namun dalam hal agresivitas, kanker ini adalah salah satu yang paling “positif”
atau aktif. Dengan mengidentifikasi dan memahami jalur-jalur yang mendukung
perkembangan TNBC, harapannya adalah di masa depan kita bisa mengembangkan
terapi yang lebih baik dan memberi harapan bagi penderita kanker payudara triple negatif.
(Penulis: Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.(Cand.), kandidat doktor di IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar Indonesia, Diploma in Project Management from International Business Management Institute Berlin Germany, WorldWide Peace Organization (WWPO) Peace Ambassador in Indonesia, Dokter pengampu Telemedicine di SMA Negeri 13 Semarang, penulis puluhan buku diantaranya: “The Art of Medicine”, “The Art of Televasculobiomedicine 5.0”, “The Art of Onconomics 5.0”, “Stem Cells Made Easy”, “Ensiklopedia penyakit dan gangguan kesehatan”, reviewer puluhan jurnal nasional dan internasional terindeks Scopus Q1, penulis dan trainer profesional berlisensi BNSP, pendiri School of Life Institute (SLI), juga tergabung dalam berbagai organisasi di: Perhimpunan Periset Indonesia, MABBI, INBIO INDONESIA, Kagama, Asosiasi Wisata Medis Indonesia, ADEWI-PERKEWINDO, Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia, Serikat Pekerja Kampus)
