Oleh: Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.
BERNAS.ID – Di desa kecil di Okinawa, seorang pria berusia sembilan puluh tahun bangun setiap pagi dengan penuh semangat. Ia menyiram kebun, menyeduh teh hijau, lalu berjalan ke rumah tetangganya untuk berbincang.
Sore harinya, ia duduk di bawah pohon sakura, tersenyum saat angin lembut menyapu wajahnya. Usianya mungkin nyaris satu abad,
tetapi ia tak pernah merasa tua. Baginya, hidup adalah tarian yang indah, dan ia menari
di dalamnya dengan penuh kesadaran.
Apa rahasia panjang umur mereka? Tidak ada pil ajaib, tidak ada ramuan khusus. Kunci
kebahagiaan mereka adalah sebuah konsep yang bernama Ikigai—sebuah alasan
untuk bangun setiap pagi, sesuatu yang membuat mereka merasa hidup, terhubung,
dan berarti.
Namun, di luar pulau kecil itu, dunia tampak berbeda. Di kota-kota besar, orang-orang
berlari tanpa henti, mengejar sesuatu yang sering kali tidak mereka mengerti.
Baca Juga : Mata Uang Jepang dan Cara Cek Kurs Berapa Rupiah Secara Real Time
Pagi dimulai dengan notifikasi pekerjaan, siang dihabiskan dalam pertemuan tanpa akhir,
dan malam ditutup dengan layar ponsel yang terus menyala. Kita menumpuk pencapaian, tetapi kehilangan makna. Kita mengumpulkan materi, tetapi lupa merawat jiwa.
Di tengah semua ini, Ikigai tampak seperti utopia yang jauh dari jangkauan.
Antara Impian Barat dan Filosofi Timur
Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan bahwa hidup adalah sebuah perlombaan: kuliah
di universitas terbaik, mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, membeli rumah, lalu
menunggu masa pensiun. Kita memandang kehidupan seperti garis lurus yang harus
ditempuh dengan kecepatan penuh. Namun, di suatu titik, kita bertanya: Untuk apa
semua ini?
Survei Gallup mengungkapkan bahwa 85% pekerja di dunia merasa tidak puas dengan
pekerjaan mereka.
Banyak yang merasa seperti robot—melakukan tugas demi tugas tanpa perasaan terhubung dengan apa yang mereka lakukan. Kita membangun karir, tetapi kehilangan diri sendiri di dalamnya.
Berbeda dengan budaya Barat yang menekankan pencapaian besar, Ikigai tidak
mengharuskan kita memiliki visi spektakuler. Ia tidak meminta kita menjadi kaya atau
terkenal.
Sebaliknya, Ikigai hadir dalam momen-momen kecil: dalam seorang barista yang menuang kopi dengan cinta, dalam seorang tukang kayu yang menghaluskan permukaan meja dengan penuh perhatian, atau dalam seorang guru yang menemukan kebahagiaan saat melihat siswanya memahami pelajaran.
Ikigai mengajarkan bahwa hidup tidak hanya tentang tujuan akhir, tetapi tentang bagaimana kita menjalani setiap langkahnya dengan penuh kesadaran dan kebahagiaan.
Ketika Waktu Melebur dalam Tarian Makna
Ada momen-momen dalam hidup ketika kita lupa waktu—ketika kita begitu tenggelam
dalam sesuatu sehingga dunia di sekitar kita menghilang. Inilah yang disebut sebagai
flow state, kondisi di mana tantangan dan kemampuan kita bertemu dalam harmoni
sempurna.
Seorang musisi yang larut dalam permainannya, seorang penulis yang
tenggelam dalam alur cerita, atau seorang ilmuwan yang begitu fokus hingga lupa
makan—semua sedang mengalami flow.
Dalam Ikigai, flow bukan sekadar kebahagiaan, tetapi juga jalan menuju jati diri. Ia
adalah bukti bahwa kita melakukan sesuatu yang bermakna, sesuatu yang sesuai
dengan diri kita.
Namun, dunia modern sering kali memisahkan kita dari pengalaman ini. Notifikasi tak henti-hentinya mengganggu, tuntutan multitasking merenggut fokus kita, dan media sosial mengubah perhatian kita menjadi sekadar konsumsi cepat.
Solusinya? Ritual kecil yang membawa kita kembali ke saat ini. Lima menit meditasi di
pagi hari, menulis tiga hal yang kita syukuri, atau sekadar menyeduh teh dengan penuh
kesadaran—semua ini adalah cara untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kita ada di
sini, bahwa kita hidup.
Mendengar Bisikan Nurani
Di dunia yang semakin didikte oleh algoritma, kita sering kehilangan hubungan dengan
diri sendiri. Kita lebih percaya pada saran Google dibandingkan pada suara hati kita
sendiri. Namun, Ikigai mengajarkan bahwa intuisi adalah salah satu alat terpenting
dalam menemukan makna.
Konsep Ichigo-ichie—yang berarti setiap pertemuan adalah sekali seumur
hidup—mengajarkan kita untuk hadir sepenuhnya dalam setiap momen.
Saat kita benar-benar mendengarkan seseorang tanpa terganggu oleh pikiran tentang email yang harus dibalas, kita mulai menyadari getaran halus dalam diri kita. Kita mulai memahami apa yang benar-benar membuat hati kita berbinar.
Sebuah studi di Universitas Kyoto menemukan bahwa mereka yang rutin bermeditasi
20 menit sehari memiliki kemampuan pengambilan keputusan intuitif yang lebih baik.
Dengan kata lain, semakin kita melatih kesadaran, semakin kita bisa mendengar suara
hati kita sendiri.
Mengembalikan Makna di Tengah Tekanan Sosial
Di era digital, kita sering kali merasa harus membuktikan diri. Kita mengukur
kebahagiaan dengan jumlah likes, membandingkan hidup kita dengan kehidupan
sempurna yang ditampilkan di media sosial, dan merasa gagal jika tidak mencapai
standar yang ditetapkan oleh orang lain.
Namun, Ikigai adalah bentuk pemberontakan halus terhadap tekanan eksternal ini. Ia
mengajak kita untuk bertanya: Apakah yang saya lakukan benar-benar bermakna bagi
saya? Bukan bagi atasan, bukan bagi tren, bukan bagi ekspektasi sosial—tetapi bagi
diri kita sendiri.
Baca Juga : 7 Cara Belajar Bahasa Jepang yang Cepat untuk Pemula
Contohnya, Anna, seorang desainer grafis yang merasa jenuh dengan pekerjaannya. Ia
selalu merasa hampa, hingga akhirnya ia menemukan Ikigai dalam membuat tembikar.
“Dulu saya hanya mendesain logo yang tidak memiliki makna bagi saya. Sekarang,
setiap cangkir yang saya buat adalah cerita,” katanya.
Ia menemukan kebahagiaan bukan dengan mengikuti definisi sukses dari orang lain, tetapi dengan menciptakan sesuatu yang selaras dengan jiwanya.
Menghidupkan Ikigai di Kehidupan Sehari-hari
Ikigai bukan sekadar konsep abstrak, melainkan sesuatu yang bisa kita wujudkan
dalam kehidupan nyata dengan langkah-langkah sederhana.
Pertama, eksplorasi diri. Temukan apa yang Anda sukai, apa yang Anda kuasai, dan apa yang bisa memberikan
dampak bagi dunia.
Kedua, eksperimen. Cobalah hal-hal baru, ikuti kelas, berbicara dengan orang yang menginspirasi Anda.
Ketiga, integrasi. Carilah cara untuk menggabungkan passion dengan kehidupan profesional atau keseharian Anda.
Keempat, evaluasi. Lakukan audit Ikigai secara rutin, tanyakan pada diri sendiri apakah
Anda masih berada di jalur yang selaras dengan hati Anda. Yang terpenting, jangan
menunggu segalanya sempurna. Ikigai bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang
keberanian untuk mulai melangkah.
Pulang ke Diri Sendiri
Di penghujung hidup, tak ada yang berharap mereka telah bekerja lebih lama atau
memiliki lebih banyak uang. Yang kita rindukan adalah momen-momen ketika kita
benar-benar merasa hidup: tertawa bersama sahabat, menciptakan sesuatu dengan
tangan sendiri, atau sekadar menikmati senja dengan tenang.
Ikigai bukanlah sesuatu yang harus kita cari di luar sana. Ia bukan sesuatu yang harus
kita kejar dengan terburu-buru. Ia selalu ada dalam diri kita—menunggu untuk
ditemukan, untuk dihidupi, untuk dirayakan.
Seperti pepatah Okinawa yang mengajarkan bahwa “Hidup bukanlah tentang menunggu badai berlalu, tetapi belajar menari di tengah hujan” (人生とは嵐が過ぎるの
を待つのではなく、雨の中で踊ることを学ぶことである。 (Jinsei to wa arashi ga sugiru no o matsu no de wa naku, ame no naka de odoru koto o manabu koto de aru)
Ikigai seolah musik yang mengajak kita menari—bukan untuk melarikan diri dari
kehidupan, tetapi untuk benar-benar menghidupinya.
(Dokter Dito Anurogo MSc PhD, alumnus PhD dari IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar Indonesia, peneliti Institut Molekul Indonesia, penulis puluhan buku, penulis-trainer berlisensi BNSP, aktif di berbagai organisasi, reviewer puluhan jurnal nasional-internasional, pembelajar paremiologi, pengamat kebudayaan Jepang)
