SLEMAN, BERNAS.ID- Sejumlah inovasi diciptakan oleh Laboratorium Biokomia Nutrisi Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) untuk mendukung industri peternakan yang berkelanjutan. Seiring dengan perkembangan industri ini yang membawa sejumlah tantangan.
Di antaranya seperti ketergantungan impor pada bahan baku pakan, penggunaan antibiotik yang berlebihan, kontaminasi mikotoksin, hingga peningkatan emisi gas rumah kaca dan emisi amonia.
Baca Juga Korupsi Bandwidth Didorong Tidak Berhenti pada Eks Kadis Kominfo Sleman
Inovasi unggulan diperkenalkan oleh tim peneliti Laboratorium Biokimia Nutrisi Fapet UGM. Hadir sebagai narasumber, Ketua Laboratorium Chusnul Hanim, didampingi peneliti yaitu Asih Kurniawati, Muhlisin, dan Muhsin Al Anas.
“Inovasi dilatarbelakangi bagaimana upaya kita, Fapet UGM, untuk memperbaiki kualitas pakan khususnya pada sektor peternakan rakyat yang mendominasi peternakan di Indonesia. Kita ingin pemberian pakan yang berkualitas akan memperbaiki produktivitas ternak sekaligus upaya penyelamatan lingkungan,” kata Chusnul Hanim.
Dengan tekanan global terhadap keberlanjutan lingkungan semakin kuat, dunia menuntut industri peternakan tidak hanya fokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada aspek efisiensi, kesejahteraan hewan, dan penurunan jejak karbon (carbon footprint).
“Jika tidak segera bertransformasi, peternakan dikhawatirkan menjadi salah satu penyumbang besar terhadap degradasi lingkungan dan krisis pangan di masa depan,” papar Chusnul.
Berikut daftar inovasi yang mereka ciptakan seperti yang disampaikan dalam kegiatan Fapet Menyapa, Jumat (26/9).
Salah satu anggota tim, Asih Kurniawati, Probiotik Lactobacillus plantarum BN21 merupakan hasil isolasi dan pengembangan probiotik unggul yang mampu meningkatkan kesehatan usus ayam serta meningkatkan efisiensi pakan. Probiotik ini berfungsi menyeimbangkan mikrobiota usus, menurunkan risiko penyakit, sekaligus mendukung pengurangan penggunaan antibiotik.
“Sedangkan mineral herbal untuk unggas adalah formulasi mineral berbasis bahan herbal yang tidak hanya mencukupi kebutuhan nutrien mikro, tetapi juga memberikan manfaat imunomodulator. Inovasi ini berperan dalam meningkatkan performa unggas dengan pendekatan alami dan ramah lingkungan,” kata Asih.
Baca Juga Kejati DIY Geledah Rumah Staf Ahli Bupati Bidang Kesejahteraan Rakyat Pemkab Sleman
1. Probiotik Lactobacillus plantarum BN21
Hasil isolasi dan pengembangan probiotik unggul yang mampu meningkatkan kesehatan usus ayam serta meningkatkan efisiensi pakan. Probiotik ini berfungsi menyeimbangkan mikrobiota usus, menurunkan risiko penyakit, sekaligus mendukung pengurangan penggunaan antibiotik.
2. Mineral Herbal untuk Unggas
Formulasi mineral berbasis bahan herbal yang tidak hanya mencukupi kebutuhan nutrien mikro, tetapi juga memberikan manfaat imunomodulator. Inovasi ini berperan dalam meningkatkan performa unggas dengan pendekatan alami dan ramah lingkungan.
3. Suplemen Pakan Pronisblok+
Suplemen praktis dalam bentuk blok untuk ternak ruminansia yang dirancang memudahkan peternak sekaligus memastikan asupan mineral selalu tercukupi. Teknologi ini mendukung kesehatan, reproduksi, dan produktivitas ternak dengan cara yang sederhana namun efektif.
4. Toxin Binder untuk Penurunan Aflatoksin (senyawa beracun pada ternak)
Salah satu tantangan besar dalam industri pakan adalah kontaminasi mikotoksin. Inovasi ini hadir untuk mengikat racun seperti aflatoksin sehingga tidak terserap di tubuh ternak, menjaga kesehatan hati, dan meningkatkan keamanan pangan asal ternak.
5. Pakan Unggas Rendah Protein
Formulasi pakan rendah protein yang dikombinasikan dengan feed additive cerdas mampu menurunkan emisi nitrogen, memperbaiki kualitas lingkungan kandang, sekaligus tetap mempertahankan performa ayam. Inovasi ini menunjukkan komitmen pada precision nutrition dan green farming.
6. Suplemen Pakan Berbasis Minyak Maggot
Produk turunan dari black soldier fly larvae (BSFL) yang berfungsi sebagai sumber energi, kaya asam lemak laurat, sekaligus memiliki efek imunostimulan. Inovasi ini memperkuat konsep circular economy dengan memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai tinggi untuk pakan.
7. Methane Chamber untuk Penelitian Gas Rumah Kaca
Instrumen riset canggih yang digunakan untuk mengukur emisi metana dari ternak, khususnya ruminansia. Teknologi ini menjadi fondasi penting dalam penelitian mitigasi emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan, sehingga hasil penelitian dapat diarahkan pada solusi konkret bagi isu iklim global. (*)
