JAKARTA, BERNAS.ID – Di tengah masifnya adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di dunia bisnis, Founder & CEO CERVO ID, Cooky T. Adhikara, menegaskan bahwa AI bukan ancaman utama bagi manusia. Menurutnya, ancaman justru datang dari pemimpin yang kehilangan empati dan kemampuan komunikasi.
Dalam wawancara dengan Bernas.id, Cooky menyebut keunggulan organisasi saat ini semakin ditentukan oleh Communication Intelligence (CI), yakni kemampuan pemimpin membangun kepercayaan, memahami emosi, dan menciptakan rasa aman psikologis. “AI bisa mengolah data, tapi manusia mengolah makna. Di era otomatisasi, empati dan kehadiran pemimpin menjadi pembeda utama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbeda dengan Communication Quotient (CQ) yang mengukur kemampuan menyampaikan pesan, CI mencakup kemampuan berkomunikasi secara adaptif sesuai konteks emosional dan psikologis audiens. Kemampuan ini dinilai krusial ketika organisasi menghadapi perubahan cepat akibat transformasi digital.
Baca Juga : Cooky T. Adhikara: Arketipe Bukan Sekadar Branding, Tapi Fondasi Strategi Bisnis
“Dalam situasi tidak pasti, manusia mencari pemimpin yang autentik dan mampu menjelaskan arah dengan bahasa yang membumi. Wilayah ini tidak bisa diambil alih algoritma,” kata Cooky, seraya mengutip pandangan Albert Einstein bahwa semangat manusia harus melampaui teknologi.
Cooky juga memaparkan penerapan AI di dunia bisnis, mulai dari Large Language Models, agentic AI, hingga pengambilan keputusan berbasis data untuk meningkatkan efisiensi. Di bidang sumber daya manusia, AI digunakan dalam rekrutmen, analisis kinerja, pembelajaran karyawan, hingga analisis sentimen.
“AI menawarkan kecepatan, akurasi, dan konsistensi. Namun pendekatan yang tepat adalah AI-augmented leadership, di mana teknologi menjadi alat bantu, bukan pengganti manusia,” ujarnya.
Baca Juga : AI Bukan Sekadar Teknologi: Cooky T. Adhikara Tegaskan Urgensi Humanisme di Era Algoritma
Menurut Cooky, ketergantungan berlebihan pada AI berisiko melemahkan daya kritis dan memicu jarak emosional di dalam organisasi. Selain itu, penggunaan AI juga dapat menimbulkan kekhawatiran karyawan terkait peran dan nilai dirinya.
“Manusia tidak akan kalah oleh AI, tetapi bisa kalah oleh pemimpin yang bersikap seperti mesin: terlalu transaksional, kaku, dan minim empati,” tegasnya.
Ia menambahkan, ancaman terbesar di era AI bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan pemimpin yang kehilangan kecerdasan komunikasi. Otomasi justru menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi di bawah tekanan, mengelola emosi, dan menyesuaikan pendekatan tetap menjadi keunggulan manusia.
Cooky menutup dengan menegaskan bahwa masa depan kepemimpinan bukan pertarungan manusia melawan AI, melainkan soal kualitas komunikasi. “Makna, kepercayaan, dan inspirasi tetap menjadi domain manusia. Masa depan bisnis ditentukan oleh keseimbangan antara kecanggihan teknologi dan kecerdasan komunikasi,” pungkasnya. (DID)
