JAKARTA, BERNAS.ID – Founder & CEO CERVO ID, Cooky T. Adhikara, menilai tantangan terbesar manusia di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan terletak pada ketertinggalan teknologi, melainkan menurunnya kualitas berpikir.
Dalam wawancara eksklusif, Cooky mengingatkan bahwa AI kini mampu menghasilkan teks yang terlihat cerdas dan meyakinkan, namun berpotensi menimbulkan ilusi berpikir. Fenomena ini dikenal dengan istilah cognitive camouflage, yakni kondisi ketika keluaran AI tampak logis dan argumentatif, tetapi tidak didukung oleh proses berpikir manusia yang utuh.
“Bahasanya rapi, argumennya terdengar kuat, tapi itu bukan hasil refleksi atau pemahaman. Ini kamuflase. Luarnya seperti berpikir, tapi kosong di dalam,” kata Cooky.
Baca Juga : Cooky T. Adhikara: AI Tak Mengancam Manusia, Pemimpin Tanpa Empati Justru Berbahaya
Ia menjelaskan, cognitive camouflage terjadi karena bahasa, yang selama ini dianggap sebagai indikator kecerdasan, kini dapat diproduksi tanpa kesadaran, tanggung jawab intelektual, maupun penilaian moral. AI mampu menyusun narasi kompleks, bahkan filosofis, namun semua itu bukan hasil proses kognitif manusia.
Cooky mengaitkan kondisi tersebut dengan pemikiran “René Descartes, cogito ergo sum : aku berpikir, maka aku ada”. Menurutnya, di tengah kemajuan AI, prinsip ini justru semakin relevan. Ketika manusia menerima teks yang tampak pintar tanpa menguji dan mempertanyakannya, posisi manusia sebagai subjek yang berpikir perlahan terkikis.
Dari sisi psikologis, Cooky menyoroti kecenderungan otak manusia yang menyamakan kefasihan dengan kebenaran. Sistem berpikir cepat dan intuitif lebih mudah menerima narasi yang tersusun rapi, tanpa melibatkan proses berpikir kritis dan analitis. Kemampuan bahasa AI, kata dia, berpotensi membuat manusia bertahan dalam pola berpikir dangkal.
Baca Juga : AI Bukan Sekadar Teknologi: Cooky T. Adhikara Tegaskan Urgensi Humanisme di Era Algoritma
Dalam konteks organisasi dan kepemimpinan, kondisi ini dinilai berbahaya. Laporan dan keputusan strategis bisa terlihat meyakinkan secara naratif, namun lemah secara substansi. Jika tidak disikapi dengan kritis, hal tersebut dapat berdampak pada kualitas pengambilan keputusan.
Cooky menegaskan, AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia. “Ketika manusia menyerahkan proses berpikir pada mesin, empati, kebijaksanaan kontekstual, dan tanggung jawab moral ikut tergerus,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi dengan komitmen untuk tetap berpikir secara sadar dan kritis. “Di era digital, kita bukan hanya dituntut cakap menggunakan AI, tetapi juga menjaga kemampuan berpikir agar tidak terjebak pada ilusi kecerdasan,” pungkasnya. (DID)
