SEMARANG, BERNAS.ID — Menjelang peringatan Hari Gizi Nasional setiap 25 Januari, SMA Negeri 3 Semarang menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Indonesia Scientific Forum (ISF) 2026 bertema “Precision Nutrition for Indonesia 6.0—Personalized Nutrition, National Transformation.”
Dukungan ini ditegaskan oleh Rusmiyanto selaku Kepala SMA Negeri 3 Semarang yang juga menjabat PLT di SMA Negeri 1 Semarang, saat membuka rangkaian agenda forum ilmiah secara virtual tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Rusmiyanto mengapresiasi ISF 2026 sebagai contoh kolaborasi lintas institusi yang konkret—melibatkan International Life Institute (ILI), FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar, Masyarakat Bioinformatika dan Biodiversitas Indonesia (MABBI), serta lebih dari 14 mitra kolaborator.
Baca Juga : 210 Siswa Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta Siap Berdiaspora
“Ini adalah contoh nyata kolaborasi lintas institusi yang patut kita banggakan. Kolaborasi ini memang kunci kemajuan negeri,” ujarnya.
Forum nasional virtual ISF 2026, yang diinisiasi oleh Dito Anurogo ini, dinilai relevan dengan tantangan kesehatan Indonesia di era digital, terutama pergeseran pendekatan gizi dari model “satu pola untuk semua” menuju intervensi yang lebih presisi.
Kepala sekolah menekankan, precision nutrition memadukan superfoods, personalized medicine, dan nutrigenomics untuk menghadirkan strategi kesehatan yang lebih tepat sasaran.
“Ini bukan sekadar tren. Ini adalah arah transformasi kesehatan,” katanya, seraya menjelaskan bahwa nutrigenomik menelaah pengaruh zat gizi terhadap ekspresi gen, sementara nutrigenetik menyoroti bagaimana variasi gen memengaruhi respons tubuh terhadap makanan.
Ia juga menautkan agenda ISF 2026 dengan tujuan pembangunan berkelanjutan—mulai dari penurunan malnutrisi, penguatan kesehatan dan pendidikan, hingga inovasi dan kemitraan lintas sektor.
Menurutnya, riset tentang superfoods lokal, bioinformatika, analisis data kesehatan, serta inovasi kesehatan digital tidak boleh berhenti sebagai wacana akademik.
“Artinya, riset-riset tentang superfoods lokal, pemanfaatan bioinformatika, analisis data kesehatan, hingga inovasi kesehatan digital bukan sekadar kegiatan akademik—melainkan kontribusi nyata untuk masa depan bangsa,” tegasnya.
Sorotan lain yang mengemuka adalah persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius bagi kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga : SMK Negeri 1 Depok Gelar Table Manner dan Pengenalan Dunia Perhotelan
Ia mendorong intervensi gizi spesifik berbasis data berjalan berdampingan dengan intervensi lintas sektor—mencakup lingkungan sehat, edukasi, dan akses pangan bergizi. Dari titik itu, sekolah diharapkan hadir bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai ekosistem riset dan inovasi yang membumi.
Kepala SMA Negeri 3 Semarang kemudian mengajak guru dan siswa membangun tradisi ilmiah sejak dini melalui riset sederhana namun berdampak: dari kajian superfoods Indonesia seperti kelor, tempe, rumput laut, ikan lokal, umbi-umbian, hingga rempah; proyek gizi remaja dan anemia; edukasi kesehatan digital berbasis micro-learning; sampai kolaborasi riset kecil sekolah–kampus agar siswa mengenal metodologi ilmiah, etika penelitian, dan publikasi.
“Saya percaya, anak-anak SMA hari ini tidak hanya menjadi ‘pengguna teknologi’, tetapi bisa menjadi pencipta solusi. Guru-guru kita bukan hanya ‘pengajar’, tetapi dapat menjadi pembina riset,” ucapnya.
Sebagai langkah konkret, Rusmiyanto menyerukan penguatan budaya menulis dan publikasi karya ilmiah sejak sekolah, pembangunan kolaborasi “segitiga emas” sekolah–kampus–komunitas/pemerintah, serta menjadikan isu gizi, stunting, dan superfoods sebagai ruang latihan kepedulian, kreativitas, dan kompetensi generasi muda.
Ia juga berharap agar ISF 2026 melahirkan jejaring dan aksi nyata, sehingga riset nutrigenomik, nutrigenetik, precision nutrition, dan superfoods benar-benar menjadi energi transformasi kesehatan Indonesia.
“Semoga forum ini melahirkan gagasan, jejaring, dan aksi nyata—agar riset nutrigenomik, nutrigenetik, precision nutrition, dan pemanfaatan superfoods benar-benar menjadi energi transformasi kesehatan bangsa, sekaligus jalan kolaboratif menuju Indonesia Jaya,” pungkasnya.
(Ditulis oleh Rusmiyanto, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala SMA Negeri 3 Semarang)
