SLEMAN, BERNAS.ID – Sebuah restoran ala Timur Tengah bernama Sultaf Restaurant hadir sebagai oase bagi pencinta kuliner Pakistan dan Yaman di Kota Pelajar. Tidak hanya menyajikan hidangan asli, tempat ini juga menjadi jembatan budaya yang menghubungkan kedua negara melalui cita rasa yang autentik.
Pengelola Sultaf Restaurant, Hamza Ali, Muhammad Sachal Qamar, dan Abdullah Baawshah mengungkapkan bahwa ide pendirian restoran berawal dari pengalaman mereka sebagai mahasiswa di Jogja.
“Kita sering merasa kurangnya tempat yang menyajikan makanan Pakistan dan Yaman yang benar-benar asli. Banyak yang namanya sesuai, tapi rasanya sudah tidak khas lagi,” ujar Hamza Ali, Jumat (6/2/2026).
Menurut Muhammad Sachal Qamar, restoran ini menyajikan dua kategori menu utama yang menggabungkan kekayaan kuliner kedua negara.
BACA JUGA: Dari Besi Baja ke Hotel dan Restoran, Jejak Vera Umbara Bangun Ekosistem Bisnis yang Berkelanjutan
“Ada hidangan dengan nasi, yaitu Nasi Zurbiyan yang berasal dari Yaman dan Nasi Biryani khas Pakistan. Kemudian ada pilihan makanan dengan roti, seperti Barata yang dimasak dengan minyak, serta roti lain yang disajikan dengan dua varian Karahi,” jelasnya.
Dua jenis Karahi tersebut memiliki perbedaan yang mencolok. Abdullah Baawshah menjelaskan, “White Karahi menggunakan yogurt sebagai bahan utama, sedangkan Chicken Karahi berbahan dasar tomat. Meskipun sama-sama bernama Karahi dan berasal dari Pakistan, bumbu dan rasanya sangat berbeda.”
Yang menjadi keunggulan utama Sultaf Restaurant dibandingkan tempat serupa di Jogja adalah dua hal penting. Pertama, semua hidangan dimasak langsung oleh para pengelola yang memahami resep asli dari negara masing-masing. Kedua, harga yang ditawarkan lebih terjangkau dengan porsi yang lebih besar.
“Kita ingin menyajikan makanan asli tidak hanya untuk orang luar negeri yang mencari rasa kampung halaman mereka, tapi juga bagi masyarakat Indonesia yang ingin menjelajahi kuliner Pakistan dan Yaman dengan mudah,” tambah Hamza Ali.
Para pengelola berharap restoran ini bisa menjadi tempat berkumpul yang tidak hanya memuaskan lidah, tapi juga mempererat hubungan antarbudaya di Yogyakarta. (cdr)
