Bernas.id- Panjang runway New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) sekitar 3250 meter. Saat ini sudah mulai masuk ke struktur pondasi, tanah urug ketika Bernas.id ikut secara langsung memantau pengerjaan proyek bandara NYIA.
Dalam paparan tim Angkasa Pura (AP) I, di sisi selatan yang berbatasan dengan pantai, akan dibuat penahan Tsunami melalui hutan konversi dengan penanaman pohon Cemara Udang. “Kebetulan yang paling gampang kita tanam, cemara udang,” kata Pimpinan Proyek AP I, Taochid Purnomo Hadi, di Temon, Kulonprogo, Kamis 20 September 2018.
Sedangkan, General Manager Angkasa Pura I, Agus Pandu Purnama mengatakan bahwa nanti dari 188 penerbangan per hari di Adisutjipto akan dipindahkan ke NYIA. ” Tiga puluh persen, kita arahkan ke Kulonprogo. Seluruh penerbangan internasional akan dipindahkan,” katanya ke awak media ketika meninjau secara langsung NYIA.
Pandu menyebut NYIA memiliki luas 90 ribu meter persegi, sedangkan Adisutjipto hanya 15 ribu meter persegi sehingga sebetulnya seluruh penerbangan Adisutjipto bisa dipindahkan ke NYIA.
Namun, ia pun menyampaikan tentang tidak ada rencana pengalihan penerbangan Adisutjipto ke NYIA. “Dua-duanya akan beroperasi karena kita sudah memprediksi pertumbuhan penumpang di Yogyakarta luar biasa. Bali saja sudah 20 juta penumpang,” ujarnya.
Pandu pun mengakui bahwa destinasi wisata Jogja saat ini maju begitu pesatnya yang dibuktikan dengan tingginya intensitas penerbangan. “Sekarang per harinya penumpang datang dan pergi di Adisutjipto sekitar 26 ribu. Jadi prediksi kami di akhir tahun 8 juta lebih,” ucapnya.
Terkait adanya 3 KK yang masih menggunakan masjid di dalam area proyek NYIA, Pandu mengatakan saat ini pihaknya sedang membangun mesjid yang lebih besar dari yang ada, mungkin 7 kalinya untuk luas tanah.”Lokasi masjid ada di area relokasi warga,” ucapnya.
“Warga di relokasi nanti akan menempati rumah yang dekat dengan puskesmas dan masjid. Nanti kalau sudah jadi maka masjid yang lama ini akan kita pindahkan,” imbuhnya.
Ia pun menyangkal tentang adanya kabar warga yang masih tinggal di masjid area proyek NYIA. “Nggak-nggak (3 kk-red) hanya menggunakan saja fasilitas ibadah untuk sementara sampai dengan nanti akan kita pindahkan,” bantahnya.
“Mereka menginginkan, jangan dibongkar dulu, kami masih menggunakan fasilitas ini sampai dengan mesjid penggantinya jadi. Sebulan lagi, insyallah jadi. Sekarang sudah kelihatan,” ujar Pandu menceritakan keinginan warga.
Pandu pun menyatakan tentang ancaman bahaya kalau warga tetap menggunakan masjid yang ada di area proyek NYIA.”Kalau tetap kita biarkan masyarakat itu menggunakan sarana ibadah itu akan membahayakan. Pertama debunya untuk kesehatan dan kedua, alat-alat berat bisa membahayakan keselamatan mereka,” pungkasnya. (jat)
