YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI melakukan stikerisasi dan penyerahan sertifikat keikutsertaan dalam bimtek kepada 30 usaha jamu gendong di DIY, Rabu (12/8/2020) di salah satu hotel di Kota Jogja. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Forum Group Discusion (FGD) dan bimbingan teknis dengan topik “Pemberdayaan UMKM serta Usaha Jamu Gendong untuk Meningkatkan Keamanan dan Mutu Produk Jamu di Masa Pandemi COVlD-19 yang diselenggarakan BPOM bulan Juli lalu.
Kepala BPOM RI Penny K. Lukito berharap, di era pandemi ini, para penjual jamu bisa tetap produktif, dan menghasilkan perbaikan tata kinerja termasuk higienitas. Materi bimtek yang telah diberikan menurutnya adalah materi dasar/standar untuk pengemasan produk/packaging.
“Potensi produk herbal sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, sehingga semakin disadari pentingnya. Kami harus menjamin mutu kualitas dan keamanan jamu, yang masuk kategori obat tradisional dan suplemen kesehatan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa obat tradisional termasuk jamu, dapat memiliki dimensi manfaat yang luas mencakup aspek kesehatan, perekonomian, dan sosial budaya. Bukti empirik menunjukkan bahwa obat tradisional dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat, utamanya dalam upaya promotif dan preventif, termasuk di saat pandemi seperti sekarang ini.
“Karena itu, Badan POM mengajak pelaku usaha jamu agar selalu memenuhi peraturan dalam upaya menghasilkan produk yang aman, berkhasiat, dan bermutu untuk meningkatkan kesehatan masyarakat,” lanjutnya.
Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi dalam kesempatan ini menjelaskan, di setiap kampung di Jogja ada penjual jamunya. Dan saat ini sebagian besar sudah dijual dalam kemasan botol yang siap diminum. Namun kini penjual jamu juga memiliki banyak tantangan, seperti dituntut memberikan pelayanan yang baik, dan produknya harus memenuhi syarat kesehatan dan kebersihan.
“Sertifikat adalah bagian dari bagaimana memberikan penjual jamu ketrampilan agar pengolahannya betul-betul memenuhi tata aturan,” kata Heroe.
Ia mengakui, banyak kesulitan dialami penjual jamu masa pandemi. Namun mereka harus bisa survive. Karena itu, pedagang tradisional di Kota Jogja menurutnya terus difasilitasi untuk bisa melayani sistem transaksi online.
“Setelah kita memproduksi dan disertifikasi, PR kita kemudian adalah bagaimana menjualnya, harus terintegrasi dengan online,” pesannya pada para penjual jamu.
Puji Rahayu, salah seorang penjual jamu yang mengikuti bimtek mengakui, kini ia lebih memahami masalah sanitasi dan higienitas. Salah satu poin penting lain yang ia pelajari dari bimtek adalah bahwa kebersihan karyawan juga merupakan hal yang penting.
“Sekarang dapat membedakan mana produk yang terdaftar di BPOM dan yang tidak,” katanya. (den)
