Berita Terbaru
Author: Paulus Yesaya Jati
Sendek Prawinko menceritakan tentang perjalanan karirnya yang hampir 99% bekerja di grup internasional seperti sekarang ini dengan Melia Hotels International
Willy Tasdin, MPsi, Psi menyebut pengalaman setiap orang itu unik. Namun,? ada beberapa hal yang membuatnya menjadi seperti sekarang. ?Kalau dimulai sejak awal, ketika saya diperkenalkan dengan dunia psikologi
Tanggal 25 November mendatang, kita akan memperingati Hari Guru. Sebelumnya, tanggal 10 November kita memperingati Hari Pahlawan. Dalam bulan yang sama, kita memperingati dua sosok yang seringkali diimajinasikan sebagai pahlawan. Keduanya sama-sama pahlawan. Keduanya sama-sama berjuang. Keduanya sama-sama membangun negeri ini.
– Awalnya Hartono Hadipurnomo, SE, CHt disarankan kakaknya yang bernama Agus Budiono untuk kuliah di jurusan Aktuaria di Universitas Indonesia
Hendrik Lim, MBA menyebut ada banyak pengalaman yang memberinya pelajaran, terutama pengalaman yang membuatnya terseok-seok
Membaca buku bagi remaja kita, termasuk para peserta didik, sepertinya bukan sebuah kegiatan yang mengasyikkan. Sebaliknya, membaca buku seperti dianggap virus yang harus dihindari. Dari pengamatan sepintas, tampak bahwa aktivitas membaca buku masih jarang dilakukan oleh peserta didik di waktu senggang mereka, seperti ketika waktu jam kosong ataupun jeda waktu istirahat. Waktu senggang lebih banyak digunakan untuk mengakses gawai daripada membaca buku.
Di negara kita, seringkali muncul perdebatan terkait makna sebuah kata atau kalimat yang diucapkan pejabat publik. Kasus terakhir mencuat menjadi perdebatan ketika Anies Baswedan menggunakan kata ?pribumi? dalam pidato pelantikannya menjadi Gubernur Jakarta. Ada beberapa pihak yang merasa tersinggung dengan penggunaan kata ?pribumi?. Penggunaan kata tersebut menjadi bahan pedebatan sengit selama beberapa minggu di media sosial antara yang pro maupun yang kontra. Tidak sampai disitu, bahkan ada yang melaporkannya ke polisi karena dinilai bertentangan dengan Undang-Undang yaitu UU No 40 tahun 2008? tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis yang bunyinya “Semua pejabat negara dan kita warga bangsa, hindari pakai istilah pribumi.”
Gerakan? literasi? sekolah? (disingkat GLS) menjadi topik pembicaraan hangat di lingkungan pendidikan di tanah air.? Bangsa ini tersentak? setelah tingkat literasi bangsa Indonesia ditempatkan? pada posisi ke-60 dari 61 negara yang disurvei oleh badan internasional. Indonesia hanya unggul dari Bostwana, sebuah negara kecil? di benua? Afrika. Menteri? Pendidikan dan Kebudayaan pun? segera mengeluarkan Permendikbud? Nomor 23 Tahun 2015 tentang Pendidikan Budi Pekerti.?
Pembahasan tentang Sang Kristus dalam puisi Indonesia modern pernah dilakukan oleh Teeuw (1969: 119-135) dan Atmosuwito (1989: 48-60). Secara umum, uraian Teeuw (1969) mencakup dua hal pokok. Pertama, dikemukakan fakta bahwa kebudayaan Indonesia tidak banyak dipengaruhi dan diresapi oleh agama Kristen. Orang Kristiani merupakan minoritas sehingga Kristus dan Injil tidak menjadi nama atau pengertian yang populer bagi rakyat Indonesia. Kedua, Teeuw menyebut beberapa nama penyair yang pernah menyebut Kristus dalam puisinya, yakni: Chairil Anwar (Isa, dan Doa), Sitor Situmorang (Kristus di Medan Perang), WS Rendra (Ballada Penyaliban, dan Litani bagi Domba Kudus), dan Subagio Sastrowardoyo (Afrika Selatan). Upaya Teeuw ini adalah sebuah rintisan awal yang patut diikuti dengan kajian terhadap topik yang sama tetapi dengan data dan analisis yang lebih mendalam (intensif) dan meluas (ekstensif).
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan Kemdikbud melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti semakin hari semakin menampakkan gaungnya. Dari jenjang SD sampai dengan SMA/SMK, para guru dan siswa berlomba-lomba menyukseskan program GLS, yang muaranya adalah penumbuhan budaya baca sejak dini