Bernas.id – Jakarta terkenal sebagai ibu kota Indonesia. Segala bentuk kehidupan ada di dalamnya, mulai dari strata rendah, menengah hingga atas. Jika ingin melihat dan mencari orang termiskin, kita akan menemukannya di Jakarta. Banyak orang-orang yang hidupnya di kolong jembatan, tidak mempunyai rumah dan terpaksa hidup dipenuhi dengan kesengsaraan.
Anak kecil putus sekolah dan terpaksa bekerja untuk membantu orang tuanya dalam menghidupi hidupnya. Jika ingin melihat orang yang kaya sekalipun kita akan menemukannya di Jakarta. Bangunan-bangunan megah berbahan kaca berdiri tegak menjulang tinggi membuat lapisan ozon bumi menipis sedikit demi sedikit. Orang-orang yang hidupnya sosialita dipenuhi dengan harta kekayaan tinggal di tempat tersebut. Itulah potret kehidupan Jakarta yang dapat kita temui.
Namun, potret kehidupan Jakarta yang cukup mengundang perhatian adalah kemacetan yang tak pernah lepas setiap harinya. Ketika manusia memulai aktivitas pagi, jalanan ibu kota sudah dipadati berbagai jenis kendaraan. Bagaimana tidak? Kehidupan di Jakarta adalah kehidupan pekerja dan super sibuk. Orang bekerja mati-matian untuk menghidupi kehidupannya di Jakarta. Orang kampung pun menaruh harapan sangat banyak ketika ia menginjakkan kakinya di Jakarta. Bahwa Jakarta akan memenuhi kebutuhannya. Namun, sayang kehidupan Jakarta butuh banyak pengorbanan dan perjuangan.
Mulanya orang merasa sangat kesal ketika macet terjadi karena merusak kedisplinan jam kerja. Udara pagi yang seharusnya berbau segar dan membuat badan fresh harus tertutupi oleh debu-debu polusi yang dihasilkan oleh asap kendaraan yang memenuhi jalanan. Ternyata jika orang tak terbiasa dengan keadaan macet, ia akan terkena stres ringan. Pasalnya kemacetan menimbulkan berbagai problematika yang cukup dapat menganggu pikiran. Jika tak bisa mengendalikan, maka dampak kemacetan akan merubah keadaan pagi kita yang awalnya fresh menjadi semrawut.
