BERNAS.ID – Bagi warga Yogyakarta yang sering melewati Jalan Demangan Baru, di Sleman, pasti tidak asing dengan sekolah dengan lambang gajah ini. Ya, Olifant School atau Sekolah Olifant berdiri sejak 2007 di Kota Pelajar ini. Dibangun berdasarkan mimpi untuk mewujudkan sistem pendidikan yang menyeimbangkan semua aspek pada anak, termasuk kreativitas, psikologi, sosial, dan budaya. Di balik itu, ada sosok yang juga tak berhenti untuk bermimpi dan melakukan upaya terbaik mewujudkannya. Dia adalah Deasy Andriani, seorang perempuan tangguh yang punya asa untuk mengembangkan dunia pendidikan.
Deasy Andriani dibantu para founder lainnya mendirikan Olifant School, sebuah sekolah di Jogja, yang memiliki misi menjadikan anak didiknya sebagai sociopreneur. Dia juga merilis buku berjudul “Early Learning and Schooling” pada 2008, bahkan memiliki program radio sendiri berkolaborasi Star Jogja FM untuk membahas Modern Parenting.
Baca Juga: Kisah Advokat dan Kurator Jahmada Girsang, Dibully, Bangkit, hingga Raih Kesuksesan
Tapi, jalan yang ditempuh Deasy saat ini bukannya tanpa pengorbanan. Dia harus meninggalkan karier cemerlang di DKI Jakarta untuk pindah ke Yogyakarta.
Berawal dari Mimpi
Sejak SD hingga SMA, Deasy tinggal di Ibu Kota, bersama kedua orangtuanya. Sejak kecil, ia memiliki pemikiran yang berbeda dengan impian yang luar biasa.
Mimpi itu termasuk berandai-andai jika sekolah bisa dilakukan dengan cara yang asyik, seperti sambil bermain dan mempraktikkan teori secara menyenangkan.
“Kemudian waktu kuliah, ada bahan pelajaran, psikologi pendidikan. Tapi dari situ mulai mikir lagi, oh ternyata seru ya kalau belajar dihubungkan sama psikologi,” katanya kepada Bernas.id.
“Jadi kita nggak sekadar teori, praktik, tapi ada lagi dihubungkan sama psikologi,” imbuhnya.
Seiring berjalannya waktu, Deasy dihadapkan pada pilihan antara ingin bekerja dan mengejar karier, atau kelak hanya mengurus anak-anak di rumah.
Namun, dia merasa kehidupan tetap harus seimbang antara keluarga dan pekerjaan. Secara aktualisasi diri, ia ingin kerja dan memiliki sosialisasi yang baik dengan orang lain.
“Akhirnya bagaimana kerja di bidang sekolah saja. Saya ingin kerja di bidang pendidikan supaya tetap balancing. Sebenarnya berawal dari harapan-harapan pribadi,” ucapnya.
Baca Juga: Pakar Neuro Semantics NLP dari METAMIND Bongkar Cara Temukan Kebahagiaan dalam Hidup
Kemudian, Deasy memutuskan untuk ikut calon suaminya yang bekerja ke Yogyakarta. Konsekuensinya, ia harus meninggalkan kariernya yang cemerlang di Ibu Kota. Deasy sempat bekerja di perusahaan selama satu tahun, sebelum menikah dan pindah ke Kota Gudeg.
“Agak berat. Saya dapat kesempatan dari perusahaan besar. Diajak kerja di sana dengan karier yang bagus. Atau mau praktik jadi psikolog di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta, atau kerja di perusahaan nasional atau internasional,” katanya.
Namun, hidup adalah pilihan. Deasy memilih jalan untuk tinggal di Yogyakarta, Kota Budaya yang suatu saat akan menjadi tempatnya mewujudkan mimpi-mimpi.
Passion and Action
Sampai Jogja, kebingungan menghinggapi suasana hati Deasy. Keinginannya untuk tetap bekerja, belum dibarengi dengan peluang yang sesuai dengan kondisi dirinya.
Ia masih tetap ingin untuk menjadi guru, sampai akhirnya sebuah tawaran hadir, bahkan sesuatu yang lebih besar menanti dalam kehidupannya.
“Kalau kerja bareng suami nggak asyik juga, bisa berantem tiap hari. Akhirnya saya dapat tawaran lagi jadi guru,” ujarnya.
“Pokoknya nggak muluk-muluk, saya ingin kerja jadi guru, pendidikan, sama anak-anak, mengamalkan ilmu psikologi,” sambungnya.
“Ternyata ada passion dan action, ada mimpi, dan dituntun oleh Tuhan, saya pikir inilah jalan dan panggilan untuk saya,” imbuhnya.
Menurut Deasy, apapun bisa menjadi passion bahkan berangkat dari mimpi. Dia mengaku punya banyak keinginan. Namun, tidak banyak yang mendukung, termasuk ketika ia mengutarakan impiannya pada suatu project kuliah.
Alumni Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya ini menceritakan, suatu saat seorang dosen meminta mahasiswa di kelas untuk menyampaikan ide produk tanpa memikirkan apakah bisa atau tidak untuk diwujudkan.
Baca Juga: Psikolog dan Akademisi Tia Rahmania, Putri Daerah yang Berhasil Raih Cita di Ibu Kota
Kala itu, Deasy mengeluarkan ide produk mobil helikopter, yang ia sebut dengan singkatan mobter sebuah kendaraan mobil yang bisa mengatasi kemacetan di Ibu Kota.
“Ide saya mobter, mobil helikopter karena Jakarta serba macet. Tapi saya diketawain karena punya idea aneh. Tapi sekarang percobaan sains, mereka (peneliti) mulai mengembangkan itu,” jelasnya.
“Jangan takut untuk bermimpi. Mimpimu apa, kamu usahakan dulu, disenangi dan dicintai, apapun akan jadi mungkin,” imbuhnya.
Olifant School
Selain mewujudkan impian menjadi guru, Deasy nyatanya memperoleh lebih dari apa yang ia dambakan. Berangkat dari mimpi yang sama tentang pendidikan, Deasy bersama empat orang lainnya mendirikan Olifant School.
Awalnya, Deasy berjumpa dengan Prof. Irwanto, Ph.D, yang memiliki segudang pengalaman, termasuk konsultan sekolah internasional di Jakarta. Dari situ muncul sebuah ide untuk mendirikan sebuah sekolah.
“Awalnya saya cuma ingin jadi guru, nggak muluk-muluk. Ternyata dia mendukung, dan ayo kita bikin sekolah,” katanya.
“Ternyata saya ketemu semacam ‘perjodohan’, orangtua saya mendukung, Bapak dan Ibu Adi Pranoto, kemudian ada Prof. Irwanto, Bu Selly,” ucapnya.
Untuk membangun Olifant School, para pendiri mengedepankan kualitas. Selain itu, menurut Deasy, semua hal dikerjakan dengan hati sehingga dapat berjalan lancar sampai saat ini.
Pada awal berdiri, tepatnya pada 2007, ada sekitar 100 calon murid yang mendaftar. Angka itu di luar ekspektasi, karena Olifant School baru saja eksis, bahkan gedungnya juga belum selesai dibangun.
Untuk merayakan itu, para guru dan tim, termasuk Deasy, ingin merayakannya dengan menari di Tugu Jogja. Tapi rencana Tuhan memang lebih indah.
Akhirnya, mereka bersama dengan anak-anak pawai di Jalan Malioboro, bersama hewan gajah, yang merupakan simbol dari Olifant School. Unta dan ular juga ikut menemani mereka yang berpakaian ala Arabian Princess.
Baca Juga: Cerita Reza Y Purwoko, Dokter dan Peneliti Stem Cell yang Awalnya Ingin Jadi Insinyur
Sekolah ini menerapkan integrasi dan kesesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan anak dan masyarakat, termasuk dalam hal psikologi. Olifant School memiliki target untuk mengantarkan anak didik sebagai sociopreneur, pengusaha yang berjiwa sosial dan peduli dengan sesama.
Pengalamannya selama bekerja membuatnya bisa menganalisis apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja, dan bagaimana mencetak sumber daya dengan kemampuan logika, common sense, kegigihan, dan sikap tidak mudah menyerah.
“Harus ada set program. Tanpa mereka merasa ‘dikuliahin’. Jadi harus dengan program-program khusus, kita buat roadmap dari bayi sampai SMA, roadmap menuju sociopreneur,” jelas Deasy.
Mengubah Mindset di Kala Pandemi
Semuanya berjalan lancar, setiap masalah dapat ditemukan solusinya. Namun, pandemi melanda dunia termasuk Indonesia. Awalnya, Deasy hanya mengira ini hanya berlangsung selama tiga bulan, namun ternyata lebih lama. Ia berpikir harus ada perubahan radikal untuk memenangkan situasi ini.
“Mindset dulu yang berubah dalam menghadapi perubahan. Saya banyak bikin briefing, baca-baca, dan ternyata mindset yang diperlukan adalah mindset virtual dan globalisasi,” ucapnya.
Bahkan pandemi, membawa orangtua di luar Yogyakarta untuk mendaftarkan anak-anaknya sekolah di Olifant. Sebagian dari mereka berasal dari Jakarta dan daerah di Sumatra.
Seperti diketahui, sekarang sekolah dilakukan secara virtual sehingga tidak ada batasan wilayah lagi. Deasy selalu meyakini jika setiap masalah pasti ada peluang.
“Tujuan dan target kita bukan hanya survive, tapi bagaimana caranya bisa jadi pemenang,” katanya.
Deasy memegang teguh prinsip mencari teman sebanyak-banyaknya, bukan untuk kepentingan tertentu, tapi semata-mata untuk menjalin relasi.
“Kita nggak pernah tahu, siapa yang akan membantu kita, atau tahu ketika ada yang butuh ya kita bantu saja, dan ternyata saya dapat berkat dari hal-hal yang seperti itu,” ujarnya.
Baca Juga: Donni Prabowo, Entrepreneur Muda Pegiat Ekosistem Startup Lokal
Deasy juga menekankan agar generasi muda tidak takut untuk bermimpi, selalu tekun dan tidak mudah menyerah, serta melakukan segalanya dengan cara terbaik. Menurutnya, hal itu bisa membangun kepercayaan orang lain kepada diri kita.
“Saya nggak lihat hal kecil atau hal besar, ada untung atau nggak, apapun yang saya lakukan, saya harus melakukan yang terbaik,” katanya.
“Kalau mereka percaya saya sudah melakukan yang terbaik walau hasilnya tidak sempurna, tapi orang sudah punya trust dan terbaik yang bisa kita lakukan,” imbuhnya.
Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA), Kampus Teknologi yang Tepat untuk Anda Pilih
Bicara soal pendidikan di Yogyakarta, Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) memiliki program studi yang relevan di era digital dan memiliki prospek kerja yang baik.
Universitas ini memiliki 3 kampus di Yogyakarta, Jakarta, dan Baturaja. Tak hanya kuliah offline, UNMAHA juga tersedia kelas online juga kelas khusus karyawan.
Program di bidang IT seperti Teknik Informatika dan Sistem Informasi menjadi jurusan paling diminati di era digital. Mengingat teknologi berperan penting di hampir semua aspek kehidupan. Dengan mengambil jurusan ini, Anda telah siap menghadapi dunia kerja.
Tak hanya itu, UNMAHA menyediakan program beasiswa untuk Anda yang ingin mendapatkan gratis SPP selama kuliah. Dengan kerja remote yang efektif untuk mendapat pengalaman serta portofolio.
Untuk mendapat pengakuan resmi pada keterampilan yang Anda kuasai, UNMAHA juga menyediakan program sertifikasi di bidang IT yang bisa Anda sesuaikan dengan minat dan bidang Anda.
Informasi mengenai pendaftaran mahasiswa dan beasiswa, silakan kunjungi website PMB UNMAHA, atau langsung menghubungi Admin UNMAHA melalui WhatsApp. Semoga informasi ini bermanfaat. (1)
