YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Sejumlah akademisi lintas ilmu melakukan upaya pencegahan dan promosi kesehatan untuk mempersiapkan masyarakat menuju adaptasi kehidupan baru pasca pandemi Covid-19. Pelayanannya pun tidak hanya menyasar tempat pelayanan kesehatan, tapi melalui upaya komunal dengan digiatkan di tempat kerja yang sering terabaikan.
Seperti yang dilakukan di sentra kerajinan batik “Sinar Abadi Batik” yang terletak di Jalan Ngentakrejo Lendah Kabupaten Kulon Progo, Rabu (2/1/2022).
Pakar kesehatan FK-KMK UGM, dr Sri Awalia Febriana, MKes, SpKK(K), PhD mengatakan, pihaknya melihat dari sisi risiko penyakit dan upaya prevensi pekerja di sentra batik Sinar Abadi Batik. “Para penggiat pelayanan kesehatan kini jangan lagi hanya mengupayakan program promosi dan prevensi di ruang konsultasi ataupun praktik klinis. Sudah saatnya program prevensi dan promosi tersebut harus bersifat komunal atau komunitas, yang tempat kerjanya yang seringkali justru terabaikan,” tuturnya.
Baca Juga Media dan Pengrajin Batik Kolaborasi untuk Pemulihan Ekonomi
Di sentra batik tersebut, dr Sri Awalia memberikan banyak kegiatan untuk melindungi para pekerja, misalnya senam saraf, senam mata, perlindungan kulit dari zat kimia batik, dengan masker. “Kita inginnya meningkatkan ekonomi dan meningkatkan kesehatan, kualitas hidup makanya kita ajak teman-teman saraf, mata, THT dan lainnya,” ucapnya.
Untuk memberikan pemahaman tersebut kepada para peserta Winter Course 2022, FK-KMK, FKG, dan Fakultas Farmasi UGM menggelar kunjungan ke sentra kerajinan Batik Sinar Abadi tersebut. Para mahasiswa ini akan dilibatkan secara aktif dalam proses pembuatan batik dan mengikuti diskusi mengenai bagaimana para produsen ini beradaptasi di masa pandemi.
“Kita mau tahu, gimana sih keadaan sosial masyarakat di pandemi ini, bagaimana adaptasinya. Kenapa batik? Karena orang-orang masih menganggap ini adalah industri dan wisata dan dia menggambarkan komunitas. Sebab di Indonesia industri batik itu berpusat di komunitas bukan yang besar begitu. Jadi dia sangat kompleks dan menggambarkan banyak yang terkena pandemic. Dari industri, komunitas, wisata,” jelas koordinator kegiatan tersebut, dr Bagas Suryo Bintoro.
Baca Juga Gebyar Batik Sleman Promosikan Para Pengrajin Lokal
Sementara itu, pemilik Sinar Abadi Batik, Agus Fatkhurohman mengatakan, di masa pandemi ini pihaknya mengakui pola kerja yang sehat itu membawa dampak yang positif secara kinerja dan produktivitas. Sejak lama, para pekerjanya sudah mengenakan masker selama proses produksi batik untuk membuat para pekerja lebih terlindungi. Di masa pandemi ini mereka sudah lama terbiasa bekerja dengan menggunakan masker.
“Untuk besarannya saat ini hampir 25-30 persen kenaikannya, terutama yang terasa sekali ketika awal pandemic itu penjualan kita turun drastis, tapi ya ada beberapa yang dari UGM dan jaringannya masuk ke kita jadi sedikit memberi nafas,” katanya di kesempatan yang sama.
Sementara itu salah satu peserta kegiatan tersebut, mahasiswa FK-KMK UGM, Firda mengaku ini bukan pengalaman pertamanya membuat batik. Namun, diakuinya kegiatan ini tetap tidak mudah, terutama dalam mengoleskan malamnya.
Dengan kegiatan ini ia mengaku lebih memahami kesulitan dari para pembuat batik dan bagaimana mereka harus bertahan serta beradaptasi selama pandemi. Kegiatan ini sendiri diikuti tidak hanya mahasiswa dari Indonesia tetapi juga dari Malaysia, Myanmar, dan Pakistan. (jat)