YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Sejak Jumat (27/9) sore kemarin, tampak sejumlah warga kawasan Bong Suwung, Jlagran, Gedongtengan, Kota Jogja, terlihat sudah mulai membongkar bangunan tempat tinggalnya. Hingga Sabtu (28/9) sore masih terlihat beberapa bangunan yang berdiri kokoh, tapi ada juga yang sudah rata dengan tanah.
Beberapa warga juga tampak mencopoti atap bangunan yang mayoritas berbahan seng itu. Ada pula yang sibuk membereskan barang-barangnya.
Ketua Paguyuban Warga Bong Suwung, Jati Nugroho, menilai waktu pengosongan Bong Suwung terlalu mepet. Dia menyebut pelunasan pembayaran uang ganti bongkar dan angkut bakal dilakukan di Balai Bong Suwung.
“Mau tidak mau warga saya harus berusaha secepat mungkin membereskan barang-barang. Beres-beres kan perlu waktu.” terang Jati.
Ia pun menceritakan dilema yang dialami warga saat memutuskan menerima tawaran dari KAI. Meski berat, keputusan itu akhirnya diterima daripada kehilangan haknya.
“Kami dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit, di satu sisi jika warga tidak menjawab tawaran KAI, nanti pas sini dikosongkan (paksa) jelas warga saya kehilangan hak,” kata dia.
Baca juga: Warga Diberi Batas hingga Jumat Besok untuk Kosongkan Bong Suwung
“Tapi kalau memilih deal dengan kompensasi yang ditawarkan, ini sedikit banyak kalau untuk biaya kehidupan ke depan belum apa-apa. Kalau menerima jelas bebannya masih berat, tapi daripada konyol sama sekali tidak dapat akan lebih susah,” tambah Jati.
Warga Bong Suwung sempat melawan penggusuran dari PT KAI Daop 6. Sejumlah warga sempat menggelar aksi di DPRD DIY maupun di kantor Daop 6 hingga menyurati presiden. Namun, akhirnya warga menerima penggusuran dengan mengambil uang ganti bongkar uang angkut dari PT KAI.
Diketahui besaran uang bantu bongkar itu yakni Rp 200 ribu per meter persegi untuk bangunan semi permanen, dan Rp 300 ribu per meter persegi untuk bangunan permanen.
Baca juga: Sejarah Waria Yogyakarta: Kisah Ketahanan Komunitas Terpinggir
Manajer Humas KAI Daop 6, Krisbiyantoro, menerangkan, warga Bong Suwung juga diberi tambahan uang angkut Rp 500 ribu tiap hunian. Hal ini sesuai dengan permintaan warga yang meminta kompensasi jasa angkut berupa uang. Krisbiyantoro berharap warga sudah tidak lagi mengajukan protes dan bagi yang menolak kesepakatan akan ditertibkan pada 27 September 2024.
“Tetap akan ditertibkan, setelah tanggal 27 September kan sudah diperkenankan secara aturan. Ya [tanpa kompensasi], batas kompensasi itu diserahkan tanggal 27 jam 3 sore,” ujarnya.
Pada tenggat waktu yang diberikan, 27 September 2024 kemarin, warga akhirnya menerima uang ganti bongkar dan uang angkut yang ditawarkan KAI. Warga pun sudah menerima kompensasi dan siap membongkar sendiri bangunannya hingga 2 Oktober mendatang.
“Mereka sanggup bongkar mandiri, kami berikan waktu, tunggu progres dari warga, karena sudah menyatakan kesanggupannya. Maksimal tanggal 2 (Oktober),” imbuh dia. (den)
