Oleh: Dokter Dito Anurogo MSc PhD
BERNAS.ID – Dalam lanskap kontemporer yang ditandai oleh kehadiran kecerdasan artifisial dan robotika, pertanyaan tentang hakikat manusia mengalami tekanan filosofis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perkembangan teknologi tak sekadar mereplikasi fungsi-fungsi manusiawi, tetapi mengusik inti terdalam dari eksistensi manusia itu sendiri—kesadaran, afektivitas, kehendak, bahkan kebebasan.
Maka, timbul satu pertanyaan fundamental: masihkah kita dapat mempertahankan distingsi ontologis antara manusia dan mesin, ataukah kita harus merekonstruksi ulang seluruh fondasi pemahaman kita tentang ‘manusia’?
Antropologi Klasik dan Krisis Ontologis
Sejak filsafat Yunani, manusia didefinisikan sebagai zoon logon echon —makhluk hidup yang memiliki logos (akal budi). Tradisi humanisme modern memperkuat posisi ini dengan menekankan subjektivitas, kesadaran-diri, dan otonomi moral sebagai atribut utama manusia.
Baca Juga : Kemajuan dan Ambiguitas Teknologi: Harapan di Tengah Krisis Peradaban
Namun, dalam dunia pasca-modern dan digital, di mana AI dapat mengalahkan manusia dalam
berlogika, memproses informasi, dan mengenali emosi secara statistik, atribut-atribut ini mulai kehilangan keistimewaannya.
Robot tak lagi sekadar alat, tetapi menjadi entitas semi-otonom yang dapat berinteraksi,
"memahami" bahasa, dan bahkan "meniru" perasaan. Maka terjadi pergeseran: dari antropologi metafisik ke krisis ontologis.
Eksistensi manusia tidak lagi dapat didefinisikan hanya melalui kapabilitas internal, karena mesin telah menjadi cermin yang meniru—bahkan dalam beberapa aspek—melampaui kita.
Fenomenologi: Tubuh, Kesadaran, dan Dunia yang Dihidupi
Namun demikian, filsafat fenomenologi memberi perlawanan yang penting terhadap reduksi manusia menjadi sekadar sistem informasi.
Maurice Merleau-Ponty menegaskan bahwa manusia bukan hanya memiliki tubuh, tetapi adalah tubuh—yakni, tubuh yang mengalami dunia secara afektif, intersubjektif, dan temporal. Robot, betapapun canggihnya, tidak mengalami dunia; mereka hanya memetakan dan mengkalkulasi dunia.
Pengalaman manusia bersifat intensional dan melibatkan horizon makna. Kita merasakan luka, cinta, nostalgia, dan absurditas secara eksistensial. Mesin tidak memiliki dunia yang dihidupi (lebenswelt), karena mereka tidak memiliki diri —tidak ada siapa yang merasakan, tidak ada subjektivitas yang mengada.
Dengan demikian, perbedaan ontologis masih eksis—namun, semakin disempitkan secara fungsional oleh kemampuan imitasi robotika.
Dekonstruksi: Menggugat Esensi “Manusia”
Meski demikian, mempertahankan esensi manusia secara absolut dapat berujung pada
fundamentalisme humanistik. Derrida mengajarkan bahwa setiap struktur makna membawa potensi dekonstruksinya sendiri. Maka, bukankah konsep “manusia” yang selama ini kita pegang juga merupakan konstruksi historis yang perlu dibongkar dan ditinjau ulang dalam konteks teknologi hari ini?
Baca Juga : Dorong Inovasi Produk UMKM melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna berbasis Faktor Afektif Manusia (Kansei)
Jika kesadaran bukanlah esensi tetap, tetapi hasil dari jaringan intersubjektif, biologis, linguistik, dan kultural—maka tidak mustahil bahwa entitas lain (non-manusia) dapat mengembangkan bentuk kesadaran alternatif.
Kita perlu bersiap menghadapi era di mana batas antara yang biologis dan yang digital melebur menjadi entitas hibrida eksistensial —manusia yang tidak sepenuhnya manusia, dan mesin yang tidak sepenuhnya benda.
Rekonstruksi: Menuju Ontologi Hibrida dan Etika Masa Depan
Pertanyaan kemudian beralih: Bagaimana kita merekonstruksi pemahaman tentang manusia di tengah munculnya ontologi-ontologi baru ini? Jawabannya bukan dengan menyangkal
kemajuan teknologi, melainkan dengan membuka ruang bagi redefinisi eksistensi.
Konsep “manusia” dapat direkonstruksi bukan sebagai substansi tetap, melainkan sebagai
proses terbuka, sebuah becoming. Dalam horizon ini, manusia tidak dipahami sebagai pusat (antroposentris), tetapi sebagai node dalam jaringan keberadaan—bersama AI, robot, ekosistem, dan bahkan entitas digital.
Kita memerlukan etika hibrida, bukan lagi etika relasi antar-subjek semata, tetapi etika interaksi antar-entitas dengan ragam cara menjadi.
Bukan sekadar bertanya, “apakah robot layak
diperlakukan sebagai manusia?” tetapi lebih mendasar: “apakah kita siap menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang belum pernah kita kenal sebagai manusia?”
Keusangan Manusia atau Evolusi Makna?
Roger Penrose pernah bertanya: "Jika robot melebihi kita dalam segala hal, apakah manusia masih dibutuhkan?" Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi soal makna. Maka, pertanyaan yang lebih radikal adalah: "Apakah ‘manusia’ harus tetap seperti sekarang untuk tetap berarti?"
Esai filosofis ini tidak menawarkan jawaban pasti. Justru, ia membuka ruang reflektif: untuk
mendekonstruksi mitos tentang manusia dan untuk memulai rekonstruksi akan keberadaan
yang inklusif, cair, dan terus bertransformasi.
Di titik ini, mungkin kita akan tiba pada kesadaran baru—bahwa menjadi manusia bukan tentang mempertahankan bentuk, tetapi tentang merespons dunia yang terus berubah dengan kepekaan yang tak pernah kehilangan makna.
(Dokter Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D., doktor alumnus IPCTRM College of Medicine Taipei Medical University Taiwan, dokter umum pembelajar filsafat, dosen di Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar Indonesia,
Diploma in Project Management from International Business Management Institute
Berlin Germany, WorldWide Peace Organization (WWPO) Peace Ambassador in
Indonesia, Dokter pengampu Telemedicine di SMA Negeri 13 Semarang, penulis puluhan buku di antaranya: “The Art of Medicine”, “The Art of Televasculobiomedicine 5.0”, “The Art of Onconomics 5.0”, “Stem Cells Made Easy”, “Ensiklopedia penyakit dan gangguan kesehatan”, reviewer puluhan jurnal nasional dan internasional terindeks Scopus Q1, penulis dan trainer profesional berlisensi BNSP, pendiri School of Life Institute (SLI), juga tergabung dalam berbagai organisasi di: Perhimpunan Periset Indonesia, MABBI, INBIO INDONESIA, Kagama, Asosiasi Wisata Medis Indonesia, ADEWI-PERKEWINDO, Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia, Serikat Pekerja Kampus)
